MENIKMATI INDAHNYA ALAM KABUPATEN SITARO
BLOG INI ADALAH BLOG UNTUK PENGEMBANGAN DIRI. IKUTILAH TERUS TOPIK2 YANG MENARIK YANG BISA MENAMBAH WAWASAN ANDA DALAM PENGEMBAGAN DIRI.
Entri yang Diunggulkan
THE NEW ERA - CYBERSPACE (DUNIA MAYA), SIAPA YANG MENGENDALIKANNYA
THE NEW ERA – CYBERSPACE (DUNIA MAYA) SIAPA YANG MENGENDALIKANNYA Peradaban dunia kini berubah begitu cepat, dunia seakan menjadi kec...
Sabtu, 13 Februari 2016
PENGALAMAN PAHIT KEDUA DALAM HIDUP SAYA
PENGALAMAN
PAHIT YANG KEDUA DALAM HIDUP SAYA
Pada waktu itu sedang
berlangsung ujian akhir semester, saya waktu itu baru masuk semester I di
Unklab, pada tahun 1978 tiba-tiba saya dapat panggilan dari kantor Regitrar.
Sampai di Registrar, mereka menyerahkan sebuah telegram untuk saya, dari Kantor Telegram di Siau. Suasana waktu menerima Telegram dari siau waktu
setelah tamat dari SMA Neg III Manado, kembali terbayang. Tangan saya gemetar
memegang Telegram tersebut. Firasat hati sudah merasakan hal yang tidak enak.
Betapa kagetnya saya, karena ketika saya membuka Telegram tersebut, ternyata
isinya adalah berita duka. Mata saya seperti berkunang-kunang. Sepertinya tak
kuat saya meneruskan membaca telegram tersebut. Begitu nampak dengan jelas di
mata saya, nama Ibu saya tertulis begitu jelas. “Telah meninggal dunia di
Kinali, Siau Barat, Sangir Talaud, Ibu Ansilina Adilang”. Hati saya hancur,
karena harapan saya satu-satunya yang bisa menjadi penguat semangatku, kini
telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Oh Tuhaaaaan. Cobaan apa lagi yang terjadi
pada saya. Ayah telah tiada, kini Ibu juga telah pergi untuk selama-lamanya.
Rasanya tak sanggup saya menyelesaikan ujian semester
tersebut. Namun saya berdoa kepada Tuhan untuk minta kekuatan. Pikiranku jadi
kalut. Apakah saya harus pergi melihat Ibu, dan meninggalkan ujian. Mr dan Mrs
Goods yang waktu itu adalah dosen di Unklab, mengajak saya ke rumah mereka di
Section two, tempat para dosen bule-bule di Unklab. Mereka menghibur saya
sambil memberikan penguatan dan pemikiran yang sangat logis. Mereka meminta
saya untuk tinggal menyelesaikan ujian, baru pergi ke Siau. Dalam pandangan
mereka, kalau saya pulang, Ibu juga sudah dikubur. Dari pada harus kehilangan 1 semester, lebih baik ikuti ujia sampai selesai, baru pulang. Karena waktu itu belum ada
system pengawetan mayat seperti sekarang. Sedangkan telegram juga saya terima
sudah terlambat satu hari.
Setelah melalu perenungan yang panjang, sayapun memilih
untuk menyelesaikan ujian. Karena sama saja, kalau saya pulang paling tinggal
lihat kuburan ibu. Saya tinggal sampai ujian selesai, dengan suasana batin yang
kacau balau dan kecewa. Namun kembali saya berdoa untuk minta kekuatan dan
penghiburan dari Tuhan. Sulit sekali waktu itu saya belajar. Karena pikiran
saya selalu tertuju pada Ibu saya. Buku saya penuh dengan tetesan air mata.
Teringat pada Ibu dan membayangkan nasib saya. Hasrat untuk ingin membahagiaka
Ibu tidak tercapai. Dan itulah yang saya alami, tidak pernah bisa membahagiakan ataupun membuat hati kedua orang
tuaku bangga atas apa yang saya capai.
Ingin rasanya membahagiakan mereka, tapi itu sudah tidak
mungkin saya lakukan. Disetiap keberhasilan yang saya peroleh, selalu saya
teringat pada kedua orang tua saya. Coba kalau Ayah dan Ibu masih hidup, tentu
betapa bangganya mereka atas apa yang saya capai.
Selesai ujian semester, saya langsung pulang ke Siau.
Setibanya di Siau, seluruh keluarga menjemput saya dengan tangisan dan air
mata. Kembali mereka menangisi nasib saya dengan duka yang begitu dalam. Mereka
tidak kuat melihat penderitaan saya. Dalam usia yang masih mudah, sudah harus
berjuang seorang diri, mengarungi lautan kehidupan yang tak tau kemana arah dan
tujuannya. Saya pergi menangis di kuburan Ayah dan Ibu. Kuelus-elus batu nisan
mereka. Papa, Mama, ngoni dua so enak, mar kasiang kita harus menjalani hidup
ini tampa Papa dan Mama. Oh Tuhaan, berilah aku kekuatan, menerima semua ini.
Aku tau bahwa Papa dan Mama sudah tiada, namun saya juga tau ada Engkau Tuhan
Yang hidup. Aku percaya Engkau Allah Yang Hidup yang tau apa yang baik untukku.
Lindungilah aku, sertailah aku dalam mengarungi lautan kehidupan yang luas ini.
Hanya satu minggu saya berada di Siau, dan langsung
kembali ke Manado, Karena saya harus meneruskan kuliah saya. Saya harus bekerja,
untuk menunjang kuliah saya. Pulang ke Menado dengan tanpa membawa bekal uang.
Uang yang ada hanya cukup untuk membiayai perjalanan saya sampai ke Kampus.
Setelah
itu saya terpaksa berjuang sendiri dalam segala kepahitan dan kesulitan hidup
yang saya alami, harus melanjutkan kuliah dengan status student labour (kuliah
sambil bekerja di kampus). Harus membagi waktu untuk kuliah, bekerja dan
belajar, semuanya harus dijalani. Karena perekonomian di Siau lagi sulit,
sehingga tidak pernah menerima bantuan dari saudara di Kampung, sehingga
semuanya saya harus tanggulagi. Karena bantuan dari Student Missionary, tidak
belanjut hingga saya selesai kuliah. Begitu mereka balik ke Amerika, bantuan
itu terhenti. Saya Harus pergi berjualan buku, dan kembali bekerja lagi di
Kampus untuk bisa membiayai kuliah saya.
Berkat
prestasi akademis yang baik, akhirnya beberapa dosen memberikan kepercayaan
dengan menunjuk saya menjadi Corrector ujian untuk semua mata pelajaran mereka.
Dengan demikian pekerjaan saya mulai ringan, kemudian diberi kesempatan
mengajar di SD dan SMP Laboratorium di Universitas Klabat. Beban kerja saya menjadi semakin ringan, yang tadinya
harus bekerja di lapangan, dengan menahan panas terik matahari selama sekian
tahun.
Lahir
dari keluarga petani dan nelayan, Ayah adalah seorang pelayan Gereja Protestan
yang telah mendedikasikan hidupnya dalam pelayanan pekerjaan Tuhan dengan menjadi
Pinolong atau Ketua Jemaat Gereja Protestan di Kampung Kinali Siau Barat Utara,
Kabupaten Kepulauan Sitaro, sehingga banyak menanamkan prinsip-prinsip hidup
yang baik. Saya diajar untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan, hidup jujur,
rendah hati, tulus dan setia, semangat dan pantang menyerah. Prinsip inilah yang
menjadi bekal hidup saya selama saya menjalani kehidupan ini.
Tergoda oleh teman kuliah di UNKLAB pada merantau ke
Balikpapan, akhirnya saya berangkat menuju
ke Balikpapan. Di Balikpapan, bergabung di Total Indonesie, perusahaan asing
milik Pemerintah Perancis, semacam Pertaminanya Indonesia. Berkat pengalaman di KUD Tombulu,
Tomohon, dan Kuliah di UNKLAB dengan Major Accounting, akhirnya dipercaya untuk
membantu di Koperasi Palapa, Koperasi Karyawan Total Indonesie. Dengan
pengetahuan Komputer yang baru diperoleh dari Universitas Lambung Mangkurat,
akhirnya berhasil menyusun program untuk sistem Accounting, control piutang,
sehingga mempermudah melakukan pengawasan dan pemeriksaan untuk segala kegiatan di Koperasi Palapa pada waktu
itu.
Begitu
mendapat kesempatan saya mengambil lagi kuliah Manajemen di Universitas Tridharma
Balikpapan.
Berpikir
untuk keluar dari Total Indonesie, dan berkeinginan mengadu nasib di Jakarta,
namun ragu kalau hanys mengandalkan ilmu dari UNKLAB DAN UNIV TRIDHARMA. Pada waktu itu terpikir untuk
melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Karena ada teman Senior di UNKLAB,
yang juga bekerja di Total Indonesia, namun berhenti dan berangkat melanjutkan
pendidikannya di Amerika, maka saya memutuskan keluar dari Total Indonesie,
mengikuti jejak dari Youke Longkotoy ke Amerika.
Setelah
tinggal di Amerika, bekerja di beberapa perusahaan di sana, sambil menamba
pendikikan saya di San Bernardino Valley College di Kota San Bernardino. Setelah 3 (tiga) tahun di Amerika, teringat tanggung jawab kepada anak-anak di
Indonesia yang sudah harus mulai masuk sekolah, ditambah dengan keinginan untuk
berkarir di Jakarta, maka saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Karena
keluarga tinggal di Manado, maka saya kembali ke Manado, dan dengan segera
mengambil langkah untuk menghidupkan keluarga. Langkah pertama adalah membuka
Kursus Bahasa Inggeris di Kota Bitung. Selang kursus berjalan, ada lowongan
kerja di PT. Union Pacific Foods, anak perusahaan dari Group Astra
Internasional yang bergerak di Pengalengan Ikan. Diterima dengan posisi sebagai
Acounting and Finance Manager, merupakan pengalaman Manager pertama selama
dalam perjalanan karir saya pada waktu itu.
Seringnya
mengikuti meeting di Jakarta dan juga dalam rangka mengurus kredit modal kerja
di Bank Dagang Negara, telah mengantarkan saya kembali bertemu dengan teman
kuliah di UNKLAB. Pertemuan dengan Jimy Rompas yang juga pernah sama-sama
bekerja di Total Indonesie telah membawa kepada perkenalan pada perusahaan
Pager yang lagi booming waktu itu. Akhirnya meninggalkan PT. Union Pacific
Foods, bergabung dengan EasyCall, perusahaan Penyedia jasa layanan Pager yang
beroperasi di 7 kota di Indonesia, Jakarta, Bali, Suraya, Bandung, Palembang,
Medan dan Batam. Diterima di EasyCall dengan posisi sebagai Billing &
Collection Manager, kemudian di pindahkan lagi ke Marketing Manager.
Munculnya
SkyTel sebagai pesaing dari EasyCal telah meramaikan bisnis pager di Indonesia.
Karena waktu itu Skytel mengalami persoalan di Billig & Collection,
akhirnya saya ditawarkan untuk mengatasi Biling & Collection di Skytel. Bisinis telekomunikasi berkembang begitu
cepat, dengan munculnya penyedia jasa Telepon Sellular. Setelah setahun bekerja
di Skytel, saya mendapat tawaran dari Mobisel, penyedia jasa Telepon Sellular
dengan menggunakan sistem CDMA. Di Mobisel, kemudian mendapat kesempatan
melanjutkan pendidikan di Extension School of Business, dari American World
University di IOWA State, maka saya melanjutkan pendidikan disitu sampai
mendapat gelar Ph.D.
Dengan
diperolehnya gelar Ph.D, panggilan hati nurani untuk mengembangkan SDM telah
muncul. Setelah mendirikan Yayaan Tri Ganesha Nusantara, betsama Prof. Dr.
Daniel Kambey. MA dan Prof. Dr. Ellen Kambey, MA, yang kebetulan sewaktu saya kuliah di UNKLAB,
mereka telah banyak membantu dengan menunjuk menjadi corrector pada mata kuliah
yang mereka ajarkan. Kami bekerja sama dengan West Coast Institute of
Management and Technology (WCIMT) di Perth, Australia, maka kami membuka
Offshore campus di Manado dan menyelenggarakan program Master di bidang
Management.
Ketika
Pak Milton Kansil mencalonkan menjadi Walikota di Kota Bitung, maka saya
diminta untuk menjadi tim sukses beliau. Dari situ saya mulai mengenal dunia
politik, dan setelah beliau dilantik menjadi Walikota, saya diangkat menjadi
Tenaga Ahli Walikota yang membidangi Keuangan, Politik dan Mangement. Selain
itu, saya juga dipercaya menjadi Direktur Utama Perusahaan Air Minum di Bitung,
dan berhasil membuat perubahan besar di Perusahaan Air Minum tersebut, termasuk
melakukan pembenahan secara besar-besaran pada pada pengelolaan keuangan perusahaan.
Selama bekerja Sebagai Tenaga Ahli Walikota Bitung, karena Pak Milton sempat di
Impeach oleh DPRD Kota Bitung, maka saya berangkat ke Jakarta membantu
memperjuangkan Pak Milton agar tidak keluar Pemberhentian dari Presiden, dimana
pada waktu itu Presiden adalah Bapak Abdul Rahman Wahid atau Gus Dur, sedangkan
Wakil Presiden adalah Ibu Megawati. Berhasil memperjuangkan Pak Milton tidak
jadi di berhentikan, kemudian Oleh Ibu Mega, saya angkat menjadi Staff Khusus
di DPP PDI Perjuangan, dengan tugas menangani kasus pilkada untuk Bupati/Walikota dan Gubernur di seluruh Indonesia pada waktu itu, dibawah
pengawasan Ibu Agnita Singadikane selaku Wkl Sekjen dan Pak Theo Syafei Wkl
Ketua DPP PDI Perjuangan pada waktu itu.
Dari
Bitung pada bulan Oktober 2006, saya berangkat ke Jayapura, dan berkenalan
dengan Bupati Kabupaten Mappi yang baru saja terpilih. Kami bertemu di rumah
Kapolda Papua, waktu itu Irjen Tomy Yacobus, kebetulan juga adalah putra dari
Nusa Utara, dan kebetulan kami berasal dari satu Pulau, yaitu pulau Siau. Atas
rekomendasi Pak Kapolda, saya diterima menjadi Staff Khusus Bupati Mappi.
Selama bekerja dengan Bupati Mappi, sempat berkenalan dengan Ibu Susi
Pujiastuti Menteri Perikanan sekarang. Waktu itu, kebetulan pemda Mappi
mencarter Pesawat Susi Air untuk melayani penerbangan Merauke – Mappi, karena
pesawat ke Mappi sangat kurang. Kami adalah pencarter SUSY AIR pertama kali di Papua. Waktu itu Pesawar Susy Air baru 2 armada. Sekarang sudah 48 armada.
Setahun
saya bekerja dengan Bupati Mappi, mendapat telpon dari Yan Mandari yang waktu
itu sedang berada di Beijing. Berawal dari Telpon tersebut, telah mengantar saya
bisa sampai ke Beijing, bekerja untuk Asia International Finance limited,
sebagai perusahan Asset Management yang berkedudukan di Beijing, diterima
sebagai Financial Analist di perusahaan tersebut.
Keperdulian
terhadap kesulitan yang melilit masyarakat Papua, khususnya mereka yang
mendiami wilayah terpencil di Pegunungan Papua telah mendorong saya untuk
menuntun masyarakat di Papua untuk mengenal dunia usaha. Bekerja sama dengan
masyarakat pemilik ulayat, kami mendirikan PT. Papua Jaya Mineral dimana saya
sebagai Direktur Utama dan PT. Paniai Mineral Papua, juga sebagai Direktur Utama. Kami dirikan
perusahaan tersebut untuk mengelola potensi alam di Papua. Dengan bekerja sama
dengan beberapa pengusaha dari China, kami telah mengelola tambang dengan pola
bagi hasil.
Pada saat Pak Olly Dondokambey dan Pak Steven
Kandow mencalonkan diri untuk Gubernur dan Wakil Guber Sulut, kami bertemu di
Hotel Mandarin. Pada waktu itu saya bertemu juga dengan Pak Sompi Singal dan
Dr. Pegy Michel yang maju jadi Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Minut, dan
juga sempat bertemu dengan sahabat lama saya dari Bitung, Pak Moktar Parapaga,
Pak Max Lomban dan Pak Mourits Mantiri yang maju jadi Calon Walikota dan Calon
Wkl Walikota Bitung. Dari pertemuan itulah maka saya mengambil keputusan untuk
kembali ke Manado untuk menjadi Tim Sukses Pak Olly dan Pak Steven untuk Gub
Sulut, Pak Lomban dan Pak Mourits untuk Walikota Bitung dan Pak Sompi Singal
dan Ibu Pegy untuk Bupati Minut.
Dari
kerja keras seluruh tim, akhirnya Pak Olly dan Pak Steven terpilih jadi
Gubernur Sulut, Pak Lomban dan Pak Maurints Mantiri, terpilih menjadi Walikota
dan Wks Walikota Bitung.
Itulah
berkat Tuhan yang telah Tuhan limpahkan bagi saya selama menjalani kehidupan
ini, walaupun tadinya sempat putus harapan karena ditinggal pergi oleh Ayan dan
Ibu saya.
HANYA BAGI TUHANLAH MORMAT DAN PUJIAN ITU DIBERIKAN
KARENA HANYA DIALAH YANG PATUT DISEMBAH, DIPUJI DAN DIPUJA
SEKIAN SEKILAS PERJALANAN HIDUP SAYA SEPENINGGAL
KEDUA
ORANG TUA SAYA
OLEH
HELFRIED
LOMBO
KONTAK SAYA
Email : lombohelfried@gmail.com
Phone : +6282296103703
PENGALAMAN PAHIT PERTAMA YANG SAYA ALAMI.
PENGALAMAN PAHIT PERTAMA YANG SAYA ALAMI DALAM HIDUP SAYA.
Sewaktu Saya selesai dari SMA III di Manado tahun
1976, baru beberapa minggu setelah Saya tamat, Saya mendapat telegram. Saya
kaget, antara percaya dan tidak, mau menyangkal rasanya terhadap realitas itu,
di depan mata tertulis dengan jelas dalam telegram berita duka. Dan lebih
mengagetkan adalah nama Ayah saya yang tertulis dalam telegram itu. Badan Saya
berdiri kaku, gemetar, bagaikan disambar petir rasanya. Bolak balik Saya baca
isi telegram itu, antara percaya dan tidak. “Berita duka.Telah meninggal dunia
Bapak Nathaniel Lombo di Desa Kinali Siau Barat, Sangir Talaud”. Nama ini adalah
nama Ayah Saya. OH Tuhan, kenapa ini harus terjadi. Sulit rasanya menerima
kenyataan ini Tuhan.
Dalam
kekalutan hati, Saya masih teringat akan Tuhan. Saya masuk kedalam kamar, dan
mengunci kamar. Saya bertelut dan berdoa. “Oh Tuhaaaan, Saya tau Ayah Saya
telah meninggal. Akan tetapi Saya juga tau masih ada Engkau Tuhan, Engkau
adalah Allah Yang Hidup, yang mengawasi kehidupan setiap umat manusia sebagai
ciptaanMu. Walaupun Ayah Saya kini telah tiada, aku yakin Engkau Tuhan tidak
akan meninggalkan Saya” Itulah doa Saya waktu itu.
Walaupun
sudah berdoa, namun kesedihan itu tidak langsung beranjak dari dalam diriku.
Hatiku hancur, sedih. Segala kenangan dengan Ayah terbayang, apalagi waktu
terakhir beliau menjahit seragam sekolah saya yang sobek dan beliau meneteskan
air mata waktu itu. Beliau sadar bahwa semestinya saya sudah malu mengenakan
celana itu. Mungkin bagi anak remaja yang lain, keaadaan seperti itu akan sulit
diterima, karena akan jadi bahan ketawaan bagi anak2 yang lain. Baru saja
beberapa minggu beliau tersenyum karena prestasiku di sekolah, lulus dengan
prestasi terbaik. Kini dia telah tiada. Dia pergi tanpa saya bisa
menyaksikannya. Bayangan kedepan seakan kabur. Harapanku untuk bisa melanjutkan
pendidikanku telah sirna. Oh
Tuhaaan…..Mengapa….Mengapa ini terjadi pada diriku Tuhan…..Saya belum bisa
membalas jasa Ayah…kebaikan Ayah…..Oh Tuhan… Tuntunlah aku menapaki lorong yang
gelap ini. Banyangan hidupku kini menjadi buram, bahkan menjadi gelap. Oh
Tuhaaan terangilah jalanku, tuntunlah aku menapaki lorong yang gelap ini. Aku
tau ada Engkau ya Tuhan. Hanya
kepadaMu kupasrahkan hidup, kehidupan dan penghidupanku ya Tuhan.
Air mata menetes tiada henti, terpikir bahwa Saya harus segera pergi ke Siau. Kasihan Ibuku hanya seorang diri menghadapi musiba ini. Saya pergi kepelabuhan Manado, mengecek Kapal yang akan berangkat ke Pulau Siau. Sayang waktu itu pelayaran masih terbatas. Hanya 3 (tiga) kali dalam seminggu kapal berlayar ke Pulau Siau. Sayapun harus menunggu. Karena Kapal belum ada yang berangkat ke Siau, Saya pergi menginap ke Tante Saya di Tuna sambil membawa telegram tersebut. Ketika tante Saya membaca telegram tersebut, dia menangis, kaget dan heran, kenapa Bapakmu usianya jauh lebih mudah dari Saya, kok meninggal begitu cepat. Tante memeluk saya sambil menangis.
Air mata menetes tiada henti, terpikir bahwa Saya harus segera pergi ke Siau. Kasihan Ibuku hanya seorang diri menghadapi musiba ini. Saya pergi kepelabuhan Manado, mengecek Kapal yang akan berangkat ke Pulau Siau. Sayang waktu itu pelayaran masih terbatas. Hanya 3 (tiga) kali dalam seminggu kapal berlayar ke Pulau Siau. Sayapun harus menunggu. Karena Kapal belum ada yang berangkat ke Siau, Saya pergi menginap ke Tante Saya di Tuna sambil membawa telegram tersebut. Ketika tante Saya membaca telegram tersebut, dia menangis, kaget dan heran, kenapa Bapakmu usianya jauh lebih mudah dari Saya, kok meninggal begitu cepat. Tante memeluk saya sambil menangis.
Waktu
Ayah meninggal usia ayah Saya waktu meninggal baru sekitar 61 tahun.
Usia yang masih belum terlalu tua sesungguhnya. Namun tante Saya memberi
semangat kepada Saya. “Ungke jangan terlalu larut dalam kesedihan. Semua ini
adalah rencana Tuhan. Ungke harus kuat. Harus bisa menghadapi cobaan hidup ini.
Pulangjo ke Siau, pergi lihat Papa Pe kubur, kong bale ulang ke Manado.” Itulah
nasihat tante Saya dalam logat Manadonya yang sangat kental. Gelisah, pikiran
melayang, sulit rasanya melewati malam itu. Saya begitu sedih, pikiran kalut
karena masih sulit menerima kenyataan itu. Itu adalah pengalaman yang paling
paling pahit pertama yang pernah Saya alami dalam hidup Saya. Sepanjang malam
Saya hanya menangis dan berdoa kepada Tuhan, minta pertolongan dan menyerahkan
langkah hidup Saya selanjutnya. Besoknya Saya pergi kepelabuhan, untuk membeli
tiket kapal dan berangkat ke Pulau Siau. Setibanya di Kampung, begitu keluarga
tau Saya sudah datang. Semua mereka datang berkumpul dirumah sambil dmenangis.
Ada kata-kata yang keluar dari ungkapan kesedihan mereka, dan keterharuan
terhadap diri Saya.“ Kasian ngana Ungke. mo jadi apa ngana pe nasib”, ngana
harus berjuang keras ungke karena sapa lagi yang bisa liat. Papa adalah harapan
ungke, sekarang so nyanda ada. Hati Saya terperangah, haru dan bagaikan kena
kilatan petir, sadar mendengar ungkapan seperti itu. Perkataan yang memicu
sengangat juangku. Kata-kata itu keluar dengan tulus dari tante-tante dan Om-Om
Saya di kampung. Kata-kata itu menjadi cambuk dan menjadi dorongan, jadi pemicu
semangat. Saya tidak mau larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Saya harus
bangkit dari kesedihan ini, dan harus mengambil langkah untuk berjuang walaupun
Ayah sudah tiada. “Saya harus balik ke Manado, dan harus sekolah setinggi
tingginya walaupun tanpa bantuan keluarga sekalipun” itulah tekat yang tertanam
dalam batin saya waktu mendengar ungkapan dalam tangisan keluarga waktu itu.
Ibu Saya menangis tersenduh senduh seperti mau pingsan saat menyambut kedatangan Saya. Saya sangat kasihan pada Ibu Saya, karena dia tinggal sebatang kara di Kampung. Dia tidak bisa meninggalkan kampung halaman, apalagi Ayah Saya dimakamkan dekat rumah kami. Dan sangat sulit baginya untuk meninggalkan kuburan Ayah Saya. Dia rela hidup sebatang kara. Namun Saya tidak juga menyerah, dan tidak mau harus tinggal dikampung.
Hanya beberapa hari Saya tinggal dengan Ibu Saya, kemudian Saya mohon ijin ke Ibu untuk pergi lagi ke Manado. Kata Ibu Saya, terus kamu bagaimana Ungke di Manado, Papa sudah tidak ada. Tantu ngana so nimbole lanjutkan ngana pe sekolah. Saya bilang ke Ibu Saya, “Mama tenang, kita ini laki-laki. kita bisa hidup di Manado walaupun harus bekerja di toko juga tidak apa, akan kita jalani. Yang penting Mama doakan kita, lepaskan kita dengan iklas dan iringi kita ape perjalanan dengan Doa. kita yakin Ma, Tuhan tidak tidur, akan selalu buka jalan buat kita.” Itulah jawaban saya dengan menggunakan logat Manado, untuk meyakinkan ibu pada waktu itu.
Saya tidak kuatir meninggalkan Ibu di Kampung, karena di kampung masih ada 2 (dua) om, kaka dari Ibu Saya yang masih hidup dan 2 (dua) juga tante Saya, kakak dan adik dari ibu Saya yang juga masih hidup di kampung waktu itu. Oh ia hampir lupa, masih ada satu kakak Saya perempun, tapi kami hanya satu Bapak. Kakak Saya yang nomor satu yang satu Ayah, dia sudah menikah dan tinggal juga di Kampung. Itulah yang membuat Saya cukup yakin untuk meninggalkan ibu seorang diri di Kampung.
Saya hanya 2 Minggu tinggal di Siau, setelah itu saya mohon pamit ke Ibu, Kakak, serta Om-om dan Tante-tante di Kampung. Kebetulah hari itu adalah jadwal kapal berangkat ke Manado, sayapun pergi ke Pelabuhan Ulu untuk beli tiket. Walaupun dengan rasa berat hati karena meninggalkan Ibu seorang diri, saya terpaksa harus meninggalkan Pulau Siau dengan satu tekat yang bulat, saya harus pergi ke Manado dengan suatu tekat harus melanjutkan pendidikan saya, dengan segala upaya dan cara yang tentu berkenan bagi Tuhan, walaupun saya tau itu berat dan sulit. Kapal bastom 2 (dua) kali, saya pamit ke Ibu untuk naik kekapal, Ibu saya menangis melepaskan kepergian saya. “Mama tidak ada doi ungke. Jangan lupa Tuhan diperantauan, selalu berdoa. Papa, sepanjag hidupnya telah dia abdikan untuk pekerjaan Tuhan, Pasti Tuhan akan jaga kamu ungke di perantauan. Pegang kejujuran, hidup rendah hati, tidak boleh sombong, kalau kerja dengan orang bekerjalah dengan jujur dan tulus. Ingat Papa itu selalu mengajarkan kebaikan kepada anggota jemaat. Kamu harus ingat apa yang Papa ajarkan.” Ibu memeluk saya sambil menangis, lalu kami berpisah. Dan itulah pertemuan saya yang terakhir kali dengan Ibu saya. Ohhh Tuhaaaan ini berat tapi harus kujalani.
Setibanya di Manado, kebetulan tidak jauh dari rumah Saya, ada toko, milik Ko Ben, dia peranakan China, tapi masih ada darah Sangir dari Ibunya. Beliau seorang pebinis yang hebat. Rajin, ulet dan punya keyakinan diri yang tinggi, itulah sifat beliau yang Saya sukai. Beliau sangat pintar menarik hati para pelanggan. Banyak sekali petani Kelapa dari pulau dan daerah pesisir pantai yang menjadi langganan setia beliau. Memulai usahanya dari usaha yang masih terbilang kecil. Sampai bisa buka toko yang sangat besar. Beliau tau Saya pulang ke Kampung karena Ayah Saya meninggal.
Suatu hari Sayap pergi ngobrol dengan beliau di Toko, kebetulah beliau ada dan tidak terlalu sibuk. “Hai Ungke, so pulang ngana, kong bagaimana keadaan di Kampung di Siau.” Saya pun cerita bagaimana suasana Saya waktu tiba, dan saudara-saudara pada menangisi nasib saya. Mereka mencoba menguatkan serta memberi dorongan moril kepada saya waktu itu. Mereka memohon agar saya harus berjuang keras dan banyak berdoa agar Tuhan buka jalan. Dia merasa haru mendengar cerita Saya. Lalu menanyakan “terus apa rencanamu kedepan”. Saya jawab, “Saya akan tetap sekolah.” Lalu dia menawarkan Saya untuk bantu dia di Toko.
Sayapun menyanggupinya. Saya pikir tidak apa Saya harus kerja di Toko untuk bisa mendapatkan biaya melanjutkan pendidikan Saya. Saya harus mengambil kendali untuk merubah nasib, dan tetap pada tujuan Saya yaitu menempuh pendidikan. Saya tidak harus menyerah, tidak harus luntur hati untuk menggapai tujuan Saya. Tekat untuk menggapai cita-cita tambah membarah dalam diri Saya. Berubah dari ingin jadi Perwira Kapal, sekarang kepingin jadi Pilot. Mungkin terpengaruh oleh seringnya melihat pesawat terbang yang lewat, karena waktu tinggal di Tuna, pas pada arah pesawan mendarat dan take off.
Satu lagi yang membuat mengapa Saya merubah niat Saya jadi pelaut. Pernah satu kali dirumah kami di Tuna, waktu itu Saya dan Arah Dio tinggal berdua. Kemudian ada satu Ibu, usia masih belum terlalu tua, dia adalah Guru SD ikut tinggal dengan kami. Guru ini sudah ada suaminya, tapi kerja di Kapal. Guru ini sering sekali terima laki-laki dirumah kami. Dan langsung terlintas dikepala Saya. Wah nanti kalau Saya kerja di Kapal nanti, rumah tangga Saya akan kacau seperti ini. Istri Saya nanti akan seperti Ibu ini. Dan Saya merubah haluan Saya.
Niatpun beralih dari berkeinginan Jadi Nangkoda atau Kapten Kapal, sekarang pengen jadi Pilot. Tanpa Ayah, rencana Saya tetap jalan. Tekat membara karena terngiang terus dalam terlinga Saya tangisan dari keluarga di Siau waktu Ayah meninggal. Saya harus mengambil tanggungjawab untuk menggapai cita-cita. Tanpa Ayah, kini semua tanggungjawab itu kini pindah pada pundak Saya. Saya telah melatih diri Saya, untuk tidak merengek, tidak menggantungkan nasib Saya pada orang lain. Pikiran Saya waktu itu, Saya ini anak laki-laki, sudah terbiasa menerjang ombak dan badai di Laut sewaktu masih kecil di Siau, Saya tidak boleh menyerah. Alam sudah mendidik Saya tumbuh menjadi anak yang tahan mental, tahan banting. Filosophy leluhur “Somahe kai kehage” (Berlayar melawan arus dan angin adalah sangat menantang), benar-benar harus saya aplikasikan dalah kehidupan saya, dalam memperjuangkan nasib. Saya tidak boleh menyerah. Apapun dengan tanpa membawa modal satu perakpun, Saya harus bisa hidup, dan bisa mencapai cita-cita Saya.
Begitulah tekat Saya waktu itu. Saya tidak boleh terpengaruh dengan pikiran negatif orang lain, Saya tidak perduli dengan apa pandangan orang tentang Saya, Saya yang tau diri Saya. Saya sekarang yang menentukan nasib Saya.
Saya sudah mulai membiasakan diri saya untuk tidak termakan dengan pandangan negatif dari orang lain. Belajar untuk selalu berpikir positif. Lama kelamaan Saya terbiasa, dan tumbuh dengan sikap seperti itu. Selalu berpikir positif dalam merespon segala tindakan atau pengaruh, atau suatu rangsangan (stimulus) dengan menganalisa, berusaha memahami sumber stimulus, alasan suatu stimulus, baru menanggapinya. Terkadang Saya heran dengan orang yang suka menyalahkan keadaan atau situasi. Padahal keadaan atau situasi, atau faktor alam tidak dapat kita kendalikan. Saya melatih diri untuk melakukan hal hal dpt saya kendalikan. Saya selalu tidak menanggapi sesuatu yang menurut saya hanya akan membuang eneregi dan diluar kendali saya. Hal-hal yang dapat saya kendalikan itulah yang menajadi fokus saya bergerak, bertindak, dan berpikir.
Teringat pada petua yang Ayah saya berikan ketika beliau masih hidup. “Jadilah orang jujur, tulus melakukan pekerjaan dan rendah hatilah selalu”. Petua itu tersimpan begitu rapih dalam ingatan Saya, tertanam dalam hati sanubari saya begitu kuat dan dalam. Dan benar, saya tidak menyentuh sedikitpun barang-barang jualan dalam toko, ketika Ko Ben menawarkan saya bekerja membantu dia di Toko. Sejak saya masih di Kampung, setiap saya jualan Es Mambo milik Tokonya Ko Liongko, dekat rumah, tidak pernah saya mengambil satu senpun Es yang saya jual, dan semua uang hasil jualan, saya setor tanpa satu rupiahpun yang hilang atau saya tahan. Ayah saat itu selalu mewanti-wanti, “hati-hati Ungke, pegang tanggung jawab, dan jaga kejujuran, jaga nama, nama kamu dan nama keluarga”.
Satu biji permenpun tidak pernah saya sentuh. Saya berpikir kalau saya sudah berani mengambil permen, nanti saya sudah berani mengambil kue, dan selanjutnya mungkin bisa meningkat ke hal-hal yang lebih besar. Jadi saya pegang betul petua Ayah saya tersebut. “HELFRIED, kau harus jadi orang jujur, orang penurut, dan jadi orang yang rendah hati, tidak boleh jadi orang yang sombong.” BegItulah cara Saya memberikan Autosugesti pada diri Saya sendiri, dan memotivasi diri saya sendiri.
Menjadi orang jujur, tulus dan rendah hati butuh tekat dan komitment yang kuat. Kita harus mampu mendisiplinkan diri sendiri. Harus jelas batasan mana hak kita dan mana bukan hak kita, mana barang milik kita dan mana barang bukan milik kita atau barang milik orang lain, dan kita harus dengan ikhlas dan tulus serta bertanggung jawab menjaga harta dimana kita diberi kepercayaan untuk menjaganya. Dari hal kecil kita harus melatih diri kita, mendisiplinkan diri kita.
Petua, wajangan bukanlah sekedar kita dengar, dan ingat. Akan tetapi perlu kita praktekan, sehingga mengendap menjadi suatu kebiasaan hidup yang baik. Kita harus melatih diri kita untuk menanamkan kebiasaaan kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita. Membiasakan diri untuk melakukan kebiasaan yang baik membututkan tekat dan komitment diri yang sangat kuat. Karena itu adalah bekal hidup kita yang paling penting. Kebiasaan baik menentukan efektifitas dan kreatifitas kita dalam mencapai suatu tujuan. Dengan kreatifitas dan efektifitas diri yang baik, ditambah dengan kapasitas diri yang semakin besar, ditunjang juga dengan selalu proaktif dalam berkreasi dan berinovasi, maka tujuan kita akan lebih mudah kita capai. Ko Ben pun sangat senang dengan saya. Lama kelamaan saya sudah dipercaya memegang kunci laci tempat penyimpanan uang. Semakin saya dipercaya, semakin kuat saya berkomintment untuk mendisiplinkan diri untuk tidak tergiur dengan barang yang bukan milik saya. Tanggung jawab menjaga kepercayaan orang lain yang diberikan kepada saya semakin saya pegang dan pelihara.
Demikianlah saya melatih diri, mendisiplinkan diri, berkomitmen pada diri saya, untuk menjaga milik orang lain, milik bos, milik perusahan yang dipercayakan kepada Saya untuk menjaganya. Bagi Saya nama adalah segala galanya, karena hanya itulah modal saya diperantauan. Menjaga kepercayaan, itulah yang utama saya jaga dan pelihara, dan tanamkan dalam hati sanubari saya.
Saya menyampaikan keinginan saya untuk mau ikut Kursus Bahasa Inggeris, dan Ko Ben mengijinkan. Beliau memberikan toleransi kepada saya utuk boleh pulang Jam 5.00 sore hari, karena saya harus menyiapkan diri untuk pergi mengikuti Kursus Bahasa Inggeris. Cita-cita jadi pelaut kini sudah tergantikan dengan keinginan jadi Pilot. Dari informasi sahabat saya yang pernah ikut test, ternyata salah satu mata pelajaran yang ikut ditest adalah bahasa Inggeris. Kebutuhan untuk bisa berbahasa Inggerispun mulai timbul. Tadinya saya benci bahasa inggris waktu SMP dan SMA. Kini saya harus merubah pandangan saya. Saya baru sadar bahwa ternyata menguasai Bahasa Inggeris adalah penting.
Persepsi saya yang keliru melihat Bahasa Inggeris, tiba-tiba menjadi berubah. Atas kesadaran sendiri saya bertekat untuk mengambil kursus Bahasa Inggeris. Dari tadinya sangat membenci mata pelajaran itu, kini minat menjadi tinggi, dan rasanya kepingin cepat bisa menguasai Bahasa Inggeris.
Kursuspun dimulai, Sekitar bulan Maret 1977, Saya mendaftar jadi peserta kursus. Setelah dilakukan test untuk penempatan kelas, ternyata hasil test saya sangat buruk. Penguji menyampaikan hasil test saya, dan ternyata saya harus mulai dari Level One. Level yang paling bawah, paling pemula dalam belajar Bahasa Inggeris. Saya sadari hal itu, karena waktu SMP dan SMA saya benar-benar tidak berminat belajar pelajaran itu. “Ngapain saya harus belajar bahasa orang lain, bahasa saya kan Bahasa Indonesia.” Jiwa Nasionalisme saya rupanya sudah mulai tumbuh sejak itu. Maka mulailah saya dari Level One, Level Paling awal, Level Pemula. Dengan tekat yang begitu kuat, bagaikan disulap, setiap hari saya harus bisa menghafal minimal 20 kata baru. Itu yang saya lakukan dan sudah saya komit. Dalam waktu 1 (satu) tahun saya sudah harus bisa berbahasa Inggeris. Cara itu ternyata berhasil. It Works. Dalam waktu 6 (enam) bulan saya sudah bisa mengerti membaca buku cerita dalam bahasa Inggeris, walaupun masih dengan mengambil garis besar jalan cerita. Belum dapat mengartikan kata perkata dalam buku cerita itu.
Saya sudah mulai bisa berbicara dengan Bule bule, para instruktur dari Amerika yang datang ke Indonesia sebagai instruktur Bahas Inggeris. Mereka adalah para student Missionaries yang datang untuk membantu pekerjaan missionary, melalui pendekatan Bahasa Inggeris. Pertolongan Tuhanpun datang pada saya. Karena melihat perkembangan dalam menggunakan bahasa Inggeris maju begitu pesat, dan keseriusan saya serta minat yang begitu kuat, telah menarik perhatian dari para instruktur Bahasa Inggeris.
Bule-bule Amerika itu mulai menyenangi saya. Sering kali saya diajak kediaman mereka di Airmadidi, di Kampus Universitas Klabat. Maklum mereka dapat perumahan di kompleks Universitas Klabat, bergabung satu kompleks dengan para Dosen Bule di Universitas Klabat. Saya jadi tertarik dengan kampus itu. Halamannya tertata begitu indah. Mesin pemotong rumput selalu dihidupkan setiap hari untuk memelihara keindahan halaman kampusnya. Tidak ada rumput yang tumbuh tinggi, karena beberapa tenaga mahasiswa selalu bekerja untuk mendorong mesing pemotong rumput.
Suatu waktu Para Student Missionaries ini menawarkan saya untuk kuliah di UNKLAB, yang pada waktu itu masih berstatus Sekolah Tinggi. Saya bertanya kalau disana saya bisa ambil jurasan apa?. Mereka menjawab bahwa disana ada jurusan Filsafat, Akuntansi dan Pendidikan. Saya karena SMA jurusan IPA, dan berminat jadi PILOT, sehingga saya kurang tertarik waktu ditawarkan oleh mereka.
Namun karena sering diajak ke Kampus, lama kelamaan saya jadi minat juga karena melihat Kampusnya yang rapi, bersih, dan tertata begitu rapih. Hal yang paling membuat saya terkagum, saya dengar mahasiswanya pada berbicara Bahasa Inggeris sesama Mahasiswa pada waktu itu. Wah boleh juga saya masuk. Tapi bagaimana cara bayarnya. Berkat Tuhan nyata pada saya. Para Student Missionary tersebut menawarkan kepada saya untuk membiayai kuliah saya sambil saya juga diajari untuk cara cari uang untuk bisa biayai kuliah saya. Maka jadilah saya Mahasiswa UNKLAB dengan mengambil jurusan Akuntansi.
Ibu Saya menangis tersenduh senduh seperti mau pingsan saat menyambut kedatangan Saya. Saya sangat kasihan pada Ibu Saya, karena dia tinggal sebatang kara di Kampung. Dia tidak bisa meninggalkan kampung halaman, apalagi Ayah Saya dimakamkan dekat rumah kami. Dan sangat sulit baginya untuk meninggalkan kuburan Ayah Saya. Dia rela hidup sebatang kara. Namun Saya tidak juga menyerah, dan tidak mau harus tinggal dikampung.
Hanya beberapa hari Saya tinggal dengan Ibu Saya, kemudian Saya mohon ijin ke Ibu untuk pergi lagi ke Manado. Kata Ibu Saya, terus kamu bagaimana Ungke di Manado, Papa sudah tidak ada. Tantu ngana so nimbole lanjutkan ngana pe sekolah. Saya bilang ke Ibu Saya, “Mama tenang, kita ini laki-laki. kita bisa hidup di Manado walaupun harus bekerja di toko juga tidak apa, akan kita jalani. Yang penting Mama doakan kita, lepaskan kita dengan iklas dan iringi kita ape perjalanan dengan Doa. kita yakin Ma, Tuhan tidak tidur, akan selalu buka jalan buat kita.” Itulah jawaban saya dengan menggunakan logat Manado, untuk meyakinkan ibu pada waktu itu.
Saya tidak kuatir meninggalkan Ibu di Kampung, karena di kampung masih ada 2 (dua) om, kaka dari Ibu Saya yang masih hidup dan 2 (dua) juga tante Saya, kakak dan adik dari ibu Saya yang juga masih hidup di kampung waktu itu. Oh ia hampir lupa, masih ada satu kakak Saya perempun, tapi kami hanya satu Bapak. Kakak Saya yang nomor satu yang satu Ayah, dia sudah menikah dan tinggal juga di Kampung. Itulah yang membuat Saya cukup yakin untuk meninggalkan ibu seorang diri di Kampung.
Saya hanya 2 Minggu tinggal di Siau, setelah itu saya mohon pamit ke Ibu, Kakak, serta Om-om dan Tante-tante di Kampung. Kebetulah hari itu adalah jadwal kapal berangkat ke Manado, sayapun pergi ke Pelabuhan Ulu untuk beli tiket. Walaupun dengan rasa berat hati karena meninggalkan Ibu seorang diri, saya terpaksa harus meninggalkan Pulau Siau dengan satu tekat yang bulat, saya harus pergi ke Manado dengan suatu tekat harus melanjutkan pendidikan saya, dengan segala upaya dan cara yang tentu berkenan bagi Tuhan, walaupun saya tau itu berat dan sulit. Kapal bastom 2 (dua) kali, saya pamit ke Ibu untuk naik kekapal, Ibu saya menangis melepaskan kepergian saya. “Mama tidak ada doi ungke. Jangan lupa Tuhan diperantauan, selalu berdoa. Papa, sepanjag hidupnya telah dia abdikan untuk pekerjaan Tuhan, Pasti Tuhan akan jaga kamu ungke di perantauan. Pegang kejujuran, hidup rendah hati, tidak boleh sombong, kalau kerja dengan orang bekerjalah dengan jujur dan tulus. Ingat Papa itu selalu mengajarkan kebaikan kepada anggota jemaat. Kamu harus ingat apa yang Papa ajarkan.” Ibu memeluk saya sambil menangis, lalu kami berpisah. Dan itulah pertemuan saya yang terakhir kali dengan Ibu saya. Ohhh Tuhaaaan ini berat tapi harus kujalani.
Setibanya di Manado, kebetulan tidak jauh dari rumah Saya, ada toko, milik Ko Ben, dia peranakan China, tapi masih ada darah Sangir dari Ibunya. Beliau seorang pebinis yang hebat. Rajin, ulet dan punya keyakinan diri yang tinggi, itulah sifat beliau yang Saya sukai. Beliau sangat pintar menarik hati para pelanggan. Banyak sekali petani Kelapa dari pulau dan daerah pesisir pantai yang menjadi langganan setia beliau. Memulai usahanya dari usaha yang masih terbilang kecil. Sampai bisa buka toko yang sangat besar. Beliau tau Saya pulang ke Kampung karena Ayah Saya meninggal.
Suatu hari Sayap pergi ngobrol dengan beliau di Toko, kebetulah beliau ada dan tidak terlalu sibuk. “Hai Ungke, so pulang ngana, kong bagaimana keadaan di Kampung di Siau.” Saya pun cerita bagaimana suasana Saya waktu tiba, dan saudara-saudara pada menangisi nasib saya. Mereka mencoba menguatkan serta memberi dorongan moril kepada saya waktu itu. Mereka memohon agar saya harus berjuang keras dan banyak berdoa agar Tuhan buka jalan. Dia merasa haru mendengar cerita Saya. Lalu menanyakan “terus apa rencanamu kedepan”. Saya jawab, “Saya akan tetap sekolah.” Lalu dia menawarkan Saya untuk bantu dia di Toko.
Sayapun menyanggupinya. Saya pikir tidak apa Saya harus kerja di Toko untuk bisa mendapatkan biaya melanjutkan pendidikan Saya. Saya harus mengambil kendali untuk merubah nasib, dan tetap pada tujuan Saya yaitu menempuh pendidikan. Saya tidak harus menyerah, tidak harus luntur hati untuk menggapai tujuan Saya. Tekat untuk menggapai cita-cita tambah membarah dalam diri Saya. Berubah dari ingin jadi Perwira Kapal, sekarang kepingin jadi Pilot. Mungkin terpengaruh oleh seringnya melihat pesawat terbang yang lewat, karena waktu tinggal di Tuna, pas pada arah pesawan mendarat dan take off.
Satu lagi yang membuat mengapa Saya merubah niat Saya jadi pelaut. Pernah satu kali dirumah kami di Tuna, waktu itu Saya dan Arah Dio tinggal berdua. Kemudian ada satu Ibu, usia masih belum terlalu tua, dia adalah Guru SD ikut tinggal dengan kami. Guru ini sudah ada suaminya, tapi kerja di Kapal. Guru ini sering sekali terima laki-laki dirumah kami. Dan langsung terlintas dikepala Saya. Wah nanti kalau Saya kerja di Kapal nanti, rumah tangga Saya akan kacau seperti ini. Istri Saya nanti akan seperti Ibu ini. Dan Saya merubah haluan Saya.
Niatpun beralih dari berkeinginan Jadi Nangkoda atau Kapten Kapal, sekarang pengen jadi Pilot. Tanpa Ayah, rencana Saya tetap jalan. Tekat membara karena terngiang terus dalam terlinga Saya tangisan dari keluarga di Siau waktu Ayah meninggal. Saya harus mengambil tanggungjawab untuk menggapai cita-cita. Tanpa Ayah, kini semua tanggungjawab itu kini pindah pada pundak Saya. Saya telah melatih diri Saya, untuk tidak merengek, tidak menggantungkan nasib Saya pada orang lain. Pikiran Saya waktu itu, Saya ini anak laki-laki, sudah terbiasa menerjang ombak dan badai di Laut sewaktu masih kecil di Siau, Saya tidak boleh menyerah. Alam sudah mendidik Saya tumbuh menjadi anak yang tahan mental, tahan banting. Filosophy leluhur “Somahe kai kehage” (Berlayar melawan arus dan angin adalah sangat menantang), benar-benar harus saya aplikasikan dalah kehidupan saya, dalam memperjuangkan nasib. Saya tidak boleh menyerah. Apapun dengan tanpa membawa modal satu perakpun, Saya harus bisa hidup, dan bisa mencapai cita-cita Saya.
Begitulah tekat Saya waktu itu. Saya tidak boleh terpengaruh dengan pikiran negatif orang lain, Saya tidak perduli dengan apa pandangan orang tentang Saya, Saya yang tau diri Saya. Saya sekarang yang menentukan nasib Saya.
Saya sudah mulai membiasakan diri saya untuk tidak termakan dengan pandangan negatif dari orang lain. Belajar untuk selalu berpikir positif. Lama kelamaan Saya terbiasa, dan tumbuh dengan sikap seperti itu. Selalu berpikir positif dalam merespon segala tindakan atau pengaruh, atau suatu rangsangan (stimulus) dengan menganalisa, berusaha memahami sumber stimulus, alasan suatu stimulus, baru menanggapinya. Terkadang Saya heran dengan orang yang suka menyalahkan keadaan atau situasi. Padahal keadaan atau situasi, atau faktor alam tidak dapat kita kendalikan. Saya melatih diri untuk melakukan hal hal dpt saya kendalikan. Saya selalu tidak menanggapi sesuatu yang menurut saya hanya akan membuang eneregi dan diluar kendali saya. Hal-hal yang dapat saya kendalikan itulah yang menajadi fokus saya bergerak, bertindak, dan berpikir.
Teringat pada petua yang Ayah saya berikan ketika beliau masih hidup. “Jadilah orang jujur, tulus melakukan pekerjaan dan rendah hatilah selalu”. Petua itu tersimpan begitu rapih dalam ingatan Saya, tertanam dalam hati sanubari saya begitu kuat dan dalam. Dan benar, saya tidak menyentuh sedikitpun barang-barang jualan dalam toko, ketika Ko Ben menawarkan saya bekerja membantu dia di Toko. Sejak saya masih di Kampung, setiap saya jualan Es Mambo milik Tokonya Ko Liongko, dekat rumah, tidak pernah saya mengambil satu senpun Es yang saya jual, dan semua uang hasil jualan, saya setor tanpa satu rupiahpun yang hilang atau saya tahan. Ayah saat itu selalu mewanti-wanti, “hati-hati Ungke, pegang tanggung jawab, dan jaga kejujuran, jaga nama, nama kamu dan nama keluarga”.
Satu biji permenpun tidak pernah saya sentuh. Saya berpikir kalau saya sudah berani mengambil permen, nanti saya sudah berani mengambil kue, dan selanjutnya mungkin bisa meningkat ke hal-hal yang lebih besar. Jadi saya pegang betul petua Ayah saya tersebut. “HELFRIED, kau harus jadi orang jujur, orang penurut, dan jadi orang yang rendah hati, tidak boleh jadi orang yang sombong.” BegItulah cara Saya memberikan Autosugesti pada diri Saya sendiri, dan memotivasi diri saya sendiri.
Menjadi orang jujur, tulus dan rendah hati butuh tekat dan komitment yang kuat. Kita harus mampu mendisiplinkan diri sendiri. Harus jelas batasan mana hak kita dan mana bukan hak kita, mana barang milik kita dan mana barang bukan milik kita atau barang milik orang lain, dan kita harus dengan ikhlas dan tulus serta bertanggung jawab menjaga harta dimana kita diberi kepercayaan untuk menjaganya. Dari hal kecil kita harus melatih diri kita, mendisiplinkan diri kita.
Petua, wajangan bukanlah sekedar kita dengar, dan ingat. Akan tetapi perlu kita praktekan, sehingga mengendap menjadi suatu kebiasaan hidup yang baik. Kita harus melatih diri kita untuk menanamkan kebiasaaan kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita. Membiasakan diri untuk melakukan kebiasaan yang baik membututkan tekat dan komitment diri yang sangat kuat. Karena itu adalah bekal hidup kita yang paling penting. Kebiasaan baik menentukan efektifitas dan kreatifitas kita dalam mencapai suatu tujuan. Dengan kreatifitas dan efektifitas diri yang baik, ditambah dengan kapasitas diri yang semakin besar, ditunjang juga dengan selalu proaktif dalam berkreasi dan berinovasi, maka tujuan kita akan lebih mudah kita capai. Ko Ben pun sangat senang dengan saya. Lama kelamaan saya sudah dipercaya memegang kunci laci tempat penyimpanan uang. Semakin saya dipercaya, semakin kuat saya berkomintment untuk mendisiplinkan diri untuk tidak tergiur dengan barang yang bukan milik saya. Tanggung jawab menjaga kepercayaan orang lain yang diberikan kepada saya semakin saya pegang dan pelihara.
Demikianlah saya melatih diri, mendisiplinkan diri, berkomitmen pada diri saya, untuk menjaga milik orang lain, milik bos, milik perusahan yang dipercayakan kepada Saya untuk menjaganya. Bagi Saya nama adalah segala galanya, karena hanya itulah modal saya diperantauan. Menjaga kepercayaan, itulah yang utama saya jaga dan pelihara, dan tanamkan dalam hati sanubari saya.
Saya menyampaikan keinginan saya untuk mau ikut Kursus Bahasa Inggeris, dan Ko Ben mengijinkan. Beliau memberikan toleransi kepada saya utuk boleh pulang Jam 5.00 sore hari, karena saya harus menyiapkan diri untuk pergi mengikuti Kursus Bahasa Inggeris. Cita-cita jadi pelaut kini sudah tergantikan dengan keinginan jadi Pilot. Dari informasi sahabat saya yang pernah ikut test, ternyata salah satu mata pelajaran yang ikut ditest adalah bahasa Inggeris. Kebutuhan untuk bisa berbahasa Inggerispun mulai timbul. Tadinya saya benci bahasa inggris waktu SMP dan SMA. Kini saya harus merubah pandangan saya. Saya baru sadar bahwa ternyata menguasai Bahasa Inggeris adalah penting.
Persepsi saya yang keliru melihat Bahasa Inggeris, tiba-tiba menjadi berubah. Atas kesadaran sendiri saya bertekat untuk mengambil kursus Bahasa Inggeris. Dari tadinya sangat membenci mata pelajaran itu, kini minat menjadi tinggi, dan rasanya kepingin cepat bisa menguasai Bahasa Inggeris.
Kursuspun dimulai, Sekitar bulan Maret 1977, Saya mendaftar jadi peserta kursus. Setelah dilakukan test untuk penempatan kelas, ternyata hasil test saya sangat buruk. Penguji menyampaikan hasil test saya, dan ternyata saya harus mulai dari Level One. Level yang paling bawah, paling pemula dalam belajar Bahasa Inggeris. Saya sadari hal itu, karena waktu SMP dan SMA saya benar-benar tidak berminat belajar pelajaran itu. “Ngapain saya harus belajar bahasa orang lain, bahasa saya kan Bahasa Indonesia.” Jiwa Nasionalisme saya rupanya sudah mulai tumbuh sejak itu. Maka mulailah saya dari Level One, Level Paling awal, Level Pemula. Dengan tekat yang begitu kuat, bagaikan disulap, setiap hari saya harus bisa menghafal minimal 20 kata baru. Itu yang saya lakukan dan sudah saya komit. Dalam waktu 1 (satu) tahun saya sudah harus bisa berbahasa Inggeris. Cara itu ternyata berhasil. It Works. Dalam waktu 6 (enam) bulan saya sudah bisa mengerti membaca buku cerita dalam bahasa Inggeris, walaupun masih dengan mengambil garis besar jalan cerita. Belum dapat mengartikan kata perkata dalam buku cerita itu.
Saya sudah mulai bisa berbicara dengan Bule bule, para instruktur dari Amerika yang datang ke Indonesia sebagai instruktur Bahas Inggeris. Mereka adalah para student Missionaries yang datang untuk membantu pekerjaan missionary, melalui pendekatan Bahasa Inggeris. Pertolongan Tuhanpun datang pada saya. Karena melihat perkembangan dalam menggunakan bahasa Inggeris maju begitu pesat, dan keseriusan saya serta minat yang begitu kuat, telah menarik perhatian dari para instruktur Bahasa Inggeris.
Bule-bule Amerika itu mulai menyenangi saya. Sering kali saya diajak kediaman mereka di Airmadidi, di Kampus Universitas Klabat. Maklum mereka dapat perumahan di kompleks Universitas Klabat, bergabung satu kompleks dengan para Dosen Bule di Universitas Klabat. Saya jadi tertarik dengan kampus itu. Halamannya tertata begitu indah. Mesin pemotong rumput selalu dihidupkan setiap hari untuk memelihara keindahan halaman kampusnya. Tidak ada rumput yang tumbuh tinggi, karena beberapa tenaga mahasiswa selalu bekerja untuk mendorong mesing pemotong rumput.
Suatu waktu Para Student Missionaries ini menawarkan saya untuk kuliah di UNKLAB, yang pada waktu itu masih berstatus Sekolah Tinggi. Saya bertanya kalau disana saya bisa ambil jurasan apa?. Mereka menjawab bahwa disana ada jurusan Filsafat, Akuntansi dan Pendidikan. Saya karena SMA jurusan IPA, dan berminat jadi PILOT, sehingga saya kurang tertarik waktu ditawarkan oleh mereka.
Namun karena sering diajak ke Kampus, lama kelamaan saya jadi minat juga karena melihat Kampusnya yang rapi, bersih, dan tertata begitu rapih. Hal yang paling membuat saya terkagum, saya dengar mahasiswanya pada berbicara Bahasa Inggeris sesama Mahasiswa pada waktu itu. Wah boleh juga saya masuk. Tapi bagaimana cara bayarnya. Berkat Tuhan nyata pada saya. Para Student Missionary tersebut menawarkan kepada saya untuk membiayai kuliah saya sambil saya juga diajari untuk cara cari uang untuk bisa biayai kuliah saya. Maka jadilah saya Mahasiswa UNKLAB dengan mengambil jurusan Akuntansi.
INI
SEGELUMIT PENGALAMAN PAHIT YANG PERNAH SAYA ALAMI, NAMUN SAYA BERUNTUNG BERKAT
AYAH SEORANG PINOLONG YANG SELALU MEMBEKALI SAYA DENGAN PENDIDIKAN ROHANI YANG
BAIK. SAYA DITANAMI PRINSIP HIDUP ; RENDAH HATI, JUJUR DAN TULUS, SERTA TAKUT
AKAN TUHAN. SEMOGA PENGALAMAN INI BISA MENJADI BAGIAN HIDUP ANDA.
KISAH INI SAYA MUAT DALAM BUKU SAYA YANG SAYA BERI JUDUL CAHAYA DARI NUSA UTARA.
MOHON KERELAANNYA UNTUK MEN SHARE CERITA INI KEPADA SAHABAT ANDA AGAR BISA MENGINSPIRASIKAN MEREKA UNTUK MAU JADI ORANG YANG BERHASIL DENGAN TUNTUNAN TUHAN.
KISAH INI SAYA MUAT DALAM BUKU SAYA YANG SAYA BERI JUDUL CAHAYA DARI NUSA UTARA.
MOHON KERELAANNYA UNTUK MEN SHARE CERITA INI KEPADA SAHABAT ANDA AGAR BISA MENGINSPIRASIKAN MEREKA UNTUK MAU JADI ORANG YANG BERHASIL DENGAN TUNTUNAN TUHAN.
BY
HELFRIED LOMBO
HELFRIED LOMBO
Kontak
saya
Email
: lombohelfried@gmail.com
Phone
: +6282296103703
SYNOPSIS - BUKU CAHAYA DARI NUSA UTARA.
SINOPSI BUKU CAHAYA DARI NUSA UTARA
Buku
Cahaya dari Nusa Utara, merupakan buku pengembangan diri dengan memadukan pengalaman
pribadi yang tersusun secara sistematis mengikuti perkembangan dari masa
pra-sekolah, SD, SMP, SMP, lalu kuliah di Universitas Klabat. Kemudian
dilanjutkan dengan pengalaman bekerja, sambil melanjutkan pendidikan sampai ke
tingkat Ph.D. Mengalami masa-masa sulit ketika di Kampung dikarenakan
merosotnya harga komoditi Pala dan Kopra, sehingga menyulitkan perekonomian
masyarakat Nusa Utara pada waktu itu, khususnya kami di Pulau Siau. Lalu
pengalaman pahit yang lain adalah ketika Ayah yang menjadi harapan untuk menopang
kelanjutan pendidikanku telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, 2 (dua) minggu
setelah saya tamat dari SMA Negeri III di Manado. Setahun kemudian, disusul
lagi Ibu menghadap Yang Maha Kuasa ketika saya sementara mengikuti ujian
semester I di Universitas Klabat.
Setelah
itu saya terpaksa berjuang sendiri dalam segala kepahitan dan kesulitan hidup
yang saya alami, mulai dari bekerja toko, kemudian harus melanjutkan kuliah
dengan status student labour (kuliah sambil bekerja di kampus). Harus membagi
waktu untuk kuliah, bekerja dan belajar, semuanya harus dijalani. Kehidupan
ekonomi yang sulit sehingga tidak pernah menerima bantuan dari saudara di
Kampung, memaksa saya harus berjuang dengan sepenuh hati selama di Universitas
Klabat. Harus pergi berjualan buku, dan kembali bekerja lagi di Kampus demi
kelanjutan kuliah.
Berkat
prestasi akademis yang baik, akhirnya beberapa dosen memberi kepercayaan dengan
menunjuk saya menjadi Corrector ujian untuk semua mata pelajaran mereka. Dengan
demikian pekerjaan saya mulai ringan, kemudian diberi kesempatan mengajar di SD
dan SMP Laboratorium di Universitas Klabat, semakin meringankan pekerjaan saya
yang tadinya harus bekerja di lapangan, dengan menahan panas terik matahari
selama sekian tahun.
Sistimatika
penulisan buku ini saya susun mengikuti prinsip alam mulai dari tahapan yang
paling awal yaitu tahapan Ketergantungan, berkembang mencapai Kemandirian, lalu
dari Kemandirian, berkembang terus dalam kematangan sosial. Mengasa rasa
keperdulian sosial hingga mencapai tingkat perkembangan kepribadian yang paling
tinggi yaitu Saling Ketergantungan. Kemudian
diselingi juga dengan prinsip management yang efektif, yang saya sebut sebagai
Super Quick Management ( SQM ). Yang nanti akan saya uraikan lebih detail dalam
buku saya yang berikut yaitu Super Quick Management.
Mengalami
pengalaman spiritual pada usia yang masih sangat muadah, sekitar 5 atau 6
tahun, dimana pada waktu itu semua orang sudah tidur pada malam hari. Entah itu
dalam keadaan sadar, atau mimpi tetapi pengalaman itu membekas begitu kuat dan
mempengaruhi keyakinan saya sampai saat ini. Saya melihat cahaya yang datang
dari ufuk barat, lalu diikuti oleh suara yang datang dari sumber cahaya.
Kejadian tersebut tersimpan begitu rapih dalam hati sanubariku, dan ketika
dorongan untuk menulis sudah timbul semakin kuat, maka kisah ini barulah saya beberkan,
dengan harapan dapat menumbuhkan keyakinan kepada seluruh pembaca terhadap
Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa. Pengalaman spiritual yang diterima waktu mudah,
itu telah meyakinkan bagiku bahwa Tuhan, Allah pencipta alam semesta ini,
adalah nyata dan benar adanya. Pengalaman itulah yang juga diambil menjadi
judul dalam buku ini yaitu “Cahaya”, lalu ditambah dengan “Nusa Utara”, karena
pengalaman itu diperoleh di Kepulauan Nusa Utara, tempat kelahiranku, sehingga buku
ini saya beri judul “CAHAYA DARI NUSA UTARA”.
Nusa
Utara adalah daerah kepulauan dimana masyarakat suku Sangir dan suku Talaud
bermukin didalamnya. Dan juga terdapat Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten
Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Sitaro. Di Kabupaten Sitaro persisnya di Pulau Siau,
merupakan tempat kelahiran saya. Daerah
kepulauan Nusa Utara memiliki keaneka ragaman biota laut, berbagai jenis karang dan tumbuhan laut
lainnya yang begitu indah, serta terdapat berbagai macam ikan di dalamnya,
menjadikanya sebagai daerah bahari yang memiliki potensi parawisata yang luar biasa.
Lahir
dari keluarga petani dan nelayan, Ayah adalah seorang pelayan Gereja Protestan
yang telah mendedikasikan hidupnya dalam pelayanan pekerjaan Tuhan dengan menjadi
Pinolong atau Ketua Jemaat Gereja Protestan di Kampung Kinali Siau Barat Utara,
Kabupaten Kepulauan Sitaro, salah satu Kabupaten yang ada di Kepulauan Nusa
Utara.
Ulasan
pengalaman hidup yang diawali dari kenangan pahit yang dialami pada usia dini,
telah merasakan suatu bentuk penyiksaan dari sang Kakak, kitika menangis untuk
meminta perhatian karena ditinggal sendiri dalam kamar di tempat buaian, namun
bukannya pertolongan yang didapat, malahan cubitan dari sang kakak. Rasa sakit
yang membekas, terekam dalam memory, dan itu merupakan memory paling jauh yang
bisa diingat oleh saya.
Ditempa
oleh alam laut, hidup di daerah terpencil namun dididik di lingkungan keluarga
yang mengabdikan hidup dalam pelayanan Gereja, telah banyak membantu
perkembangan mental menjadi lebih positif. Tumbuh dengan fisik yang kuat,
bermental keras, pantang menyerah, namun tetap menjunjung nilai moral yang
baik, jujur, rendah hati dan tulus, itulah yang telah menjadi bekal hidup saya.
Pemandangan laut yang sering dilewati kapal, dan kekaguman melihat sang
Nangkoda kapal ketika ada kapal yang berlabuh di daerah kami, telah membawa
semangat ingin menjadi Nangkoda. Pelajaran yang ada unsur hitung menghitung
menjadi sangat diminati, karena berniat melanjutkan pendidikan di sekolah
pelayaran. Berkat dorongan, dan pengawasan orang tua sehingga selalu belajar
dengan tekun dan rutin. Berkat ketekunan itu telah membuahkan hasil selalu
keluar sebagai juara kelas selama mengikuti pendidikan dari SD, SMP hingga SMA.
Oleh
karena bencana alam, Gempa bumi pada tahun 1974, terpaksa harus pindah
melanjutkan pendidikan di SMA Negeri III, di Manado, masuk di kelas II IPA. Lulus tahun 1976 dengan predikat sebagai
lulusan terbaik.
Ungkapan
keterharuan dan kata-kata penguat serta penyemangat yang terlontar dari
keluarga besar di kampong disaat Ayah meninggal telah memicu semangat yang kuat
untuk melanjutkan pendidikan. Kembali ke Menado dengan bekerja melayani di
Toko, kemudian mengikuti Kursus Bahasa Iggeris telah mengantar saya mengenal
Kampus Universitas Klabat di Airmadidi, Minahasa Utara.
Tergiur
oleh tawaran untuk bekerja di KUD Model Tomohon dengan gaji yang lumayan besar,
telah membuahkan menggiring saya pada sebuah keputusa yang keliru, yaitu
meninggalkan harus kampus dan tanpa bisa kembali lagi untuk meneruskan kuliah
di Universitas Klabat. Selesai Semester VII, langsung bekerja di KUD Model Tombulu,
koperasi yang lagi berkembang pesat pada waktu itu.
Dari
Koperasi, karena tergoda oleh teman kuliah di UNKLAB pada merantau ke
Balikpapan, akhirnya meinggalkan KUD Tombulu di Kota Tomohon, berangkat menuju
ke Balikpapan. Di Balikpapan, diterima bekerja Total Indonesie, perusahaan
asing milik Pemerintah Perancis, semacam Pertaminanya Indonesia. Mengawali
karir di department telekomunikasi, dari pegawai yang paling rendah, belajar
tanpa henti, sehingga selalu mendapat promosi. Berkat pengalaman di KUD
Tombulu, Tomohon, dan Kuliah di UNKLAB dengan Major Accounting, akhirnya
dipercaya untuk membatu di Koperasi Palapa, Koperasi Karyawan Total Indonesie.
Dengan pengetahuan Komputer yang baru diperoleh dari Universitas Lambung
Mangkurat, akhirnya berhasil menyusun program untuk sistem Accounting, control
piutang, sehingga mempermudah melakukan pengawasan dan pemeriksaan untuk segala kegiatan di Koperasi Palapa.
Begitu
mendapat kesempatan saya melanjutkan pendidikan di Universitas Tridharma Balikpapan,
sampai berhasil menyelesaikan seluruh matakuliah untuk syarat S-1 di Fakultas
Ekonomi Jurusan Management. Sayang waktu itu belum selesai menyelesaikan ujian
Negara. Dengan bermodalkan Transkrip nilai dari Universitas Klabat dan
Universitas Trisakti, saya berangkat ke Amerika untuk mencoba melanjutkan
pendidikan di sana. Merasa sudah memiliki modal S-1 walaupun belum ujian
Negara, saya tergoda untuk keluar dari Total Indonesie, dan berkeinginan
mengadu nasib di Jakarta. Ragu ke Jakarta hanya dengan bermodalkan pendidikan
dari Universitas Klabat yang hanya Semester VII, dan Universitas Tridharma yang
hanya menyelesaikan ujian lokal, tanpa menyelesaikan ujian Negara, maka
terpikir untuk melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Karena ada teman Senior
di UNKLAB, yang juga bekerja di Total Indonesia, namun berhenti dan berangkat
melanjutkan pendidikannya di Amerika, maka saya memutuskan keluar dari Total
Indonesie, mengikuti jejak dari Youke Longkotoy ke Amerika. Setelah tinggal di
Amerika, bekerja di beberapa perusahaan di Amerika sambil menamba pendikikan
saya di San Bernardino Valley College di Kota San Bernardina. Setelah 3 (tiga)
tahun di Amerika, teringat tanggung jawab kepada anak-anak di Indonesia yang
sudah harus mulai masuk sekolah, ditambah dengan keinginan untuk berkarir di
Jakarta, maka memutuskan kembali ke Indonesia.
Karena
keluarga tinggal di Manado, maka saya kembali ke Manado, dan dengan segera
mengambil langkah untuk menghidupkan keluarga. Langkah pertama adalah membuka
Kursus Bahasa Inggeris di Kota Bitung. Selang kursus berjalan, ada lowongan
kerja di PT. Union Pacific Foods, anak perusahaan dari Group Astra
Internasional yang bergerak di Pengalengan Ikan. Diterima dengan posisi sebagai
Accounting and Finance Manager, merupakan pengalaman Manager pertama selama
dalam perjalanan karir di beberapa perusahaan sebelumnya, baik di Indonesia
maupun di Amerika.
Seringnya
mengikuti meeting di Jakarta dan juga dalam rangka mengurus kredit modal kerja
di Bank Dagang Negara, telah mengantarkan saya bertemu kembali dengan teman
kuliah di UNKLAB. Pertemuan dengan Jimy Rompas yang juga pernah sama-sama
bekerja di Total Indonesie telah membawa kepada perkenalan pada perusahaan yang
bergerak di bisnis komunikasi yang lagi booming waktu itu. Akhirnya meninggalkan
PT. Union Pacific Foods, bergabung dengan EasyCall, perusahaan Penyedia jasa
layanan Pager yang beroperasi di 7 kota di Indonesia, Jakarta, Bali, Suraya,
Bandung, Palembang, Medan dan Batam. Diterima di EasyCall dengan posisi sebagai
Billing & Collection Manager, kemudian di pindahkan lagi ke Marketing
Manager.
Munculnya
SkyTel sebagai pesaing dari EasyCal telah meramaikan bisnis pager di Indonesia.
Karena waktu itu Skytel mengalami persoalan di Billig & Collection,
akhirnya saya ditawarkan untuk mengatasi Biling & Collection di Skytel
dengan tawaran gaji yang sangat menggiurkan. Bisinis telekomunikasi berkembang begitu
cepat, dengan munculnya penyedia jasa Telepon Sellular. Setelah setahun bekerja
di Skytel, saya mendapat tawaran dari Mobisel, penyedia jasa Telepon Sellular
dengan menggunakan sistem CDMA. Di Mobisel, kemudian mendapat kesempatan
melanjutkan pendidikan di Extension School of Business, dari American World
University di IOWA State, maka saya melanjutkan pendidikan disitu sampai mendapat
Ph.D di Management. Banyak kontroversi yang terjadi tentang Institusi tersebut.
Namun saya tidak memikirkan hal itu, karena bagi saya yang penting adalah saya
ingin mendapatkan ilmunya. Bagi saya, metode pembelajaran mereka sangat cocok
dengan kebutuhan saya sebagai praktisi, yang dituntut untuk mampu mengkaji dan
memecahkan persoalan di perusahaan, serta mampu mengambil keputusan secara
cepat dan akurat. Persoalan ijasahnya
apakah nanti diakui atau tidak, bagi saya tidak terlalu saya risaukan. Karena
bagi saya adalah ingin mendapatkan ilmunya. Saya sengguhnya tidak terlalu
membutuhkan gelarnya. Itu sebabnya saya juga tidak menempelkan gelar saya pada
naman saya. Namun saya membutuhkan ilmunya terlebih konsep serta pola-pola
dalam Case Study serta penelitian yang dapat saya peroleh. Bagi saya ilmunya
juga dapat saya kembangkan terus dengan membaca buku ataupun browsing di
Internet. Jaman sekarang asal kita mahir dalam berbahasa Inggeris, maka ilmu
itu akan mudah kita peroleh dari Buku
Asing dan Internet.
Selesai
mengikuti pendidikan di Ext School of Business Study di American World
University Iowa Usa, panggilan hati nurani untuk mengembangkan SDM telah
muncul. Setelah mendirikan Yayaan Tri Ganesha Nusantara, saya mencari Prof. Dr.
Daniel Kambey. MA dan Prof. Dr. Ellen Kambey, MA, yang kebetulan sewaktu saya kuliah di UNKLAB,
mereka telah banyak membantu dengan menunjuk menjadi corrector pada mata kuliah
yang mereka ajarkan. Kami bekerja sama dengan West Coast Institute of
Management and Technology (WCIMT) di Perth, Australia, maka kami membuka
Offshore campus di Manado dan menyelenggarakan program Master di bidang
Management.
Ketika
Pak Milton Kansil mencalonkan menjadi Walikota di Kota Bitung, maka saya
diminta untuk menjadi tim sukses beliau. Dari situ saya lebih mengenal dunia
politik, dan setelah beliau dilantik menjadi Walikota, saya diangkat menjadi
Tenaga Ahli Walikota yang membidangi Keuangan, Politik dan Mangement. Selain
itu, saya juga percaya menjadi Direktur Utama Perusahaan Air Minum di Bitung,
dan berhasil membuat perubahan besar di Perusahaan Air Minum tersebut, termasuk
melakukan pembersihan besar-besaran pada penyalah gunaan keuangan perusahaan.
Selama bekerja Sebagai Tenaga Ahli Walikota Bitung, karena Pak Milton sempat di
Impeach oleh DPRD Kota Bitung, maka saya berangkat ke Jakarta membantu
memperjuangkan Pak Milton agar tidak keluar Pemberhentian dari Presiden, dimana
pada waktu itu Presidennya adalah Bapak Abdul Rahman Wahid atau Gus Dur,
sedangkan Wakil Presiden adalah Ibu Megawati. Berhasil memperjuangkan Pak
Milton tidak jadi di berhentikan, kemudian Oleh Ibu Mega, saya angkat menjadi
Staff Khusus di DPP PDI Perjuangan, dengan tugas menangani persoalan pemilihan
Bupati/Walikota dan Gubernur di seluruh Indonesia pada waktu itu, dibawah
pengawasan Ibu Agnita Singadikane dan Pak Theo Syafei selaku funsionaris DPP
PDI Perjuangan pada waktu itu.
Dari
Bitung pada bulan Oktober 2007, saya berangkat ke Jayapura, dan berkenalan
dengan Bupati Kabupaten Mappi yang baru saja terpilih. Kami bertemu di rumah
Kapolda Papua, Irjen Tomy Yacobus, kebetulan juga adalah putra dari Nusa Utara,
dan kebetulan kami berasal dari satu Pulau, yaitu pulau Siau. Atas rekomendasi
Pak Kapolda, saya diterima menjadi Staff Khusus Bupati Mappi. Selama bekerja
dengan Bupati Mappi, sempat berkenalan dengan Ibu Susi Pujiastuti Menteri
Perikanan sekarang. Waktu itu, kebetulan pemda Mappi yang pertama kali mencarter
Pesawat Susi Air untuk Wilayah Papua, melayani penerbangan Merauke – Mappi,
Bouven Diegoel, Asmat dan Jayapura. karena pesawat yang melayani daerah itu
sangat kurang.
Setahun
saya bekerja dengan Bupati Mappi, mendapat telpon dari sahabat saya orang
Yahudi, Yan Mandari yang waktu itu sedang berada di Beijing. Berawal dari
Telpon tersebut, telah mengantar saya bisa sampai ke Beijing, bekerja untuk
Asia International Finance limited, sebagai perusahan Asset Management yang
berkedudukan di Beijing, diterima sebagai Financial Analist di perusahaan
tersebut.
Keperdulian
terhadap kesulitan yang melilit masyarakat Papua, khususnya mereka yang
mendiami wilayah terpencil di Pegunungan Papua telah mendorong saya untuk
menuntun masyarakat di Papua untuk mengenal dunia usaha. Bekerja sama dengan
masyarakat pemilik ulayat, kami mendirikan PT. Papua Jaya Sumber Rejeki dimana
saya sebagai Direktur Utama dan PT. Paniai Mineral Papua, dimana sebagai Direktur Keuangan. Kami dirikan
perusahaan tersebut untuk mengelola potensi alam di Papua. Bekerja sama dengan
beberapa pengusaha dari China, kami telah mengelola tambang dengan pola bagi
hasil.
Dalam
buku Cahaya Dari Nusa Utara ini, telah banyak disisipi dengan prinsip-prinsip
kehidupan yang diperoleh dari pengalaman hidup dan pemahaman akan makna
kehidupan selama menjalani kehidupan dari masa kecil sampai terdampar di
Amerika, di Beijing dan juga di pedalaman tanah Papua. Berbagai pandangan telah
saya sampaikan sekedar menambah wawasan, dan juga untuk menarik perhatian para
pembuat kebijakan untuk memperhatikan sisi yang saya coba soroti melalui
pengalaman, dan pengamatan di lapangan.
Semoga
apa yang saya tuangkan dalam buku pengembangan kepribadian dengan memadukan biodata
pribadi dilengkapi dengan pandangan berdasarkan fakta yang saya alami, dan
pegamatan selama menyusuri perjalanan hidup yang panjang yang penuh lika liku,
dapat bermanfaat bagi pembanca. = Selamat membaca=
Sebuah perpustakaan kebijaksanaan, merupakan harta paling berharga dari semua kekayaan. Apapun yang kita inginkan tidaklah sebanding
dengan perpustakaan itu. Oleh karenanya siapa pun yang mengaku memiliki semangat
kebenaran, kebahagiaan, kebijaksanaan
ataupun pengetahuan, haruslah menjadi pencinta buku.
HUBUNGI SAYA DI : lombohelfried@gmail.com
Telp : +6281385893809; +6281293766633Rabu, 10 Februari 2016
SQM - SUPER QUICK MANAGEMENT - BAB V - APPRAISEMENT
V. APPRAISEMENT.
A. Definisi dan
Penjelasan tentang Appraisement.
1. Appraisement
by definition “The act or result of judging the worth or value of something or
someone”. Terjemahan bebasnya, Definisi dari Appraisement adalah “Tindakan
atau hasil dari penilaian akan layak atau nilai dari sesuatu atau seseorang”
Appraisement = Assessment or Evaluastion.
2. Appraisement
\Ap*praise"ment\, “n”; The act of setting the value; valuation by an
appraiser; estimation of worth. Terjemahannya “Tindakan menentukan nilai;
penlaian oleh penilai; perkiraan akan
layak.”
3.
Appraisal [ah-prāz´al];
the act of evaluating something. Terjemahannya
“Tindakan akan menilai sesuatu.”
Health risk appraisal, a systematic
evaluastion of factors in an individual, family, company, or other aggregate
that might lead to illness or other health problems. Terjemahannya “
Penilaian resiko kesehatan, suatu penilaian sistematis akan faktor-faktor dalam
individu, keluarga, perusahaan, atau agrigat yang lain yang dapat menyebabkan
penyakit atau problem-problem kesehatan yang lain.”
Performance
appraisal , the evaluation of an employee or student, comparing his or her
job-related behavior with a standard of expectations for performance. Terjemahannya “ Penilaian Prestasi, adalah
penilasian akan karyawan atau pelajar, membandingkan perilaku kerja seseorang
dengan standar kenerja yang diharapkan.”
Sumber : http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/appraisement
Dari
pengertian di atas, maka saya membatasi pendefinisian dari Appraisement ini
pada Performance Appraisal. Sehingga dapat saya definisikan bahwa
“Appraisement” adalah tindakan penilain terhadap karyawan atau pegawai, dengan
membandingkan prestasi kerjanya dengan standar yang telah ditetapkan.
Appraisement adalah tahapan ketiga dari
SQM – Super Quick Management. Pada tahahapan ketiga yang merupakan tahapan terakhir
dari fungsi SQM – Super Quick Managent ini, memfokuskan kegiatan manajemen pada
evaluasi, feedback serta penerapan punishment and reward secara cepat, tepat
dan tegas. Tahapan terakir tidak berarti bahwa sudah tidak penting. Justru pada
tahapan ini adalah tahapan yang paling mendebarkan bagi karyawan.
Keseluruhan moment yang paling
mendebarkan ketika kita masih sekolah baik di SD, SMP, SMA maupun masa
Mahasiswa adalah moment ujian, dan detik terakhir, detik yang paling
menegangkan adalah detik mendengarkan pengumuman kelulusan. Ada yang menangis
karena haru, ada yang menangis karena kecewa, ada yang lompat kegirangan,
bahkan ada yang stress dan tidak bisa makan.
Saya masih teringat ketika mengikuti
ujian SD pada tahun 1970. Waktu itu kami juga menggunakan sistem ujian Negara
atau ujian nasional. Tidak mudah menghadapi ujian nasional, karena soalnya
disusun oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan. Kami harus mengikuti
pengayaan disekolah berbulan-bulan. Semua soal ujian yang pernah diuji
tahun-tahun sebelumnya harus kami kerjakan. Tiba waktu ujian dilaksanakan, kami
harus duduk dengan siswa dari sekolah yang lain. Teman dari satu sekolah
disebar semuanya.
Dan yang paling menegangkan adalah pada
hari pengumuman kelulusan. Kebetulan waktu jaman saya, dari sekolah kami di SD
Kinali, di Siau Barat Kabuapten Sangir Talaud, dari 25 siswa yang ikut ujian
hanya kami 3 (tiga) orang yang lulus. Banyak siswa yang pulang kecewa pada hari
itu, bahkan mereka memilih untuk tidak meneruskan pendidkan mereka lagi karena
kecewa dan malu.
Semua proses kegiatan, untuk mengetahui
apakah performancenya baik atau tidak, harus dilakukan melalui kegiatan evaluasi.
Dengan evaluasi, prestasi seseorang dapat diukur atau diketahui. Setiap perusahaan,
organisasi, atau pada institusi pemerintah sudah pasti akan selalu diadakan
evaluasi untuk dapat menilai kinerja dari karyawan atau pegawai yang bekerja.
Masa evaluasi kenerja adalah masa yang paling menegangkan, disusul dengan pemberian
feedback dan puncak dari semua ketegangan adalah saat penerapan Punishment dan
Reward. Pada bab V yang merupakan bab
terakhir dari keseluruhan pembahasan ini, saya akan mencoba membagi kedalam 3
(tiga) tahapan kegiatan yaitu; Evaluasi, Feedback, dan Penerapan Punishment and
Reward secara Cepat, Tepan dan Tegas. Itulah
sesungguhnya yang menjadi salah satu ciri dari SQM – Super Quick Manangement,
yaitu Cepat, Tepat dan Tegas. Dengan menitik beratkan pada prinsip Cepat, Tepat
dan Tegas, itulah sebabnya pola manajement ini saya sebutkan sebagai pola SQM –
Super Quick Management.
Peradaban moderen yang bercirikan
kecepatan, yang dipicu oleh derasnya arus infomasi yang ditunjang oleh kemajuan
teknologi telekomunikasi dan multy media, memaksa perubahan dalam pola menajemen, dimana manajer atau pemimpin harus Cepat, Tepat dan Tegas dalam bertindak. Baik dalam
membuat keputusan, dan mengambil tindakan. Hanya dengan cara kerja yang
demikian, suatu perusahaan, suatu organisasi, suatu institusi, bahkan suatu
Negara bisa maju.
Kecepatan yang dituntut adalah kecepatan
dengan didukung oleh sistem database yang falid dan akurat. Itulah sebabnya,
setiap menerapkan suatu kebijakan, peraturan, aturan, standar and prosedure, haruslah
ditunjang dengan sistem database yang terintegrasi dengan sistem yang lain. Contoh
: sistem database kependudukan di Departement Dalam Negeri, bisa diintegrasikan
dengan sistem database pajak di Departement Keuangan, dan sistem database kriminal
di Kepolisian, dan bisa lagi ditambah satu sistem lagi yaitu sistem database “Pemantauan Kredit”, yang pelaksanaannya
oleh lembaga independen pemerintah atau swasta. Sehingga ketika ada
instansti yang membutuhkan informasi tentang seseorang, cukup memasukan “Nomor
KTP” dan “Nomor Pokok Wajib Pajak”, maka langsung terhubung ke 4 sistem database
di kependudukan, pajak dan kriminal, dan pemantauan kredit, dan langsung
diperoleh informasi yang falid dan akurat tentang seseorang. Kalau sudah terjadi seperti itu, akan bisa
dipantau seseorang pernah diperiksa di polisi, pernah utang di toko mana,
apakah kondite kreditnya baik atau tidak, pernah terlibat dalam kasus kriminal
apa saja. Dengan ketersediaan sistem seperti itu, maka masyarakat akan takut
berbuat salah, karena konditenya akan terekam dalam sistem dan bisa diakses
oleh siapa saja yang membutuhkan informasi tentang seseorang. Dengan sistem
seperti itu, maka masyarakat akan menjadi disiplin dengan sendirinya, teratur
serta dapat mengontrol diri ketika ada hasrat untuk berbuat hal yang tidak
baik.
B.
Evaluasi
atau penilaian Kinerja (Performance evaluation).
1.
Definisi
Evaluasi.
Untuk
sekedar menjadi bahan referensi saya mencoba menyampaikan definisi dari
evaluasi menurut pendapat dari beberapa pakar management.
a.
Evaluasi (bahasa Inggris:Evaluation) adalah proses
penilaian dalam perusahaan, evaluasi
dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan evektivitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan
sebagai analisis situasi program berikutnya. http://id.wikipedia.org/wiki/Evaluasi
b.
Evaluasi adalah proses melalui mana
organisasi-organisasi menilai atau mengevaluasi prestasi kerja karyawan. (Hani
Handoko, 1985:99).
c.
Pengertian Evaluasi atau Penilaian
Kinerja menurut Utomo, Tri Widodo W. adalah proses untuk mengukur prestasi
kerja pegawai berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, dengan cara
membandingkan sasaran (hasil kerjanya) dengan persyaratan deskripsi pekerjaan
yaitu standar pekerjaan yang telah ditetapkan selama periode tertentu. Standar
kerja tersebut dapat dibuat baik secara kualitatif maupun kuantitatif. (http://www.geocities.com/mas_tri/sistemDP3.pdf).
d.
Siagian (1995:225–226) menyatakan
bahwa penilaian prestasi kerja adalah: Suatu pendekatan dalam melakukan
penilaian prestasi kerja para pegawai yang di dalamnya terdapat berbagai faktor
seperti :
1. Evaluasti
atau Penilaian dilakukan pada manusia sehingga disamping memiliki kemampuan
tertentu juga tidak luput dari berbagai kelemahan dan kekurangan.
2. Evaluasi
atau Penilaian yang dilakukan pada serangkaian tolak ukur tertentu yang
realistik, berkaitan langsung dengan tugas seseorang serta kriteria yang
ditetapkan dan diterapkan secara obyektif.
3. Hasil
evaluasi atau penilaian harus disampaikan kepada pegawai yang dinilai dengan
lima maksud:
a. Apabila
evaluasi atau penilaian tersebut positif maka penilaian tersebut menjadi
dorongan kuat bagi pegawai yang bersangkutan untuk lebih berprestasi lagi pada
masa yang akan datang sehingga kesempatan meniti karier lebih terbuka baginya.
b. Apabila
evaluasi atau penilaian tersebut bersifat negatif maka pegawai yang
bersangkutan mengetahui kelemahannya dan dengan sedemikian rupa mengambil
berbagai langkah yang diperlukan untuk mengatasi kelemahan tersebut.
c. Jika
seseorang merasa mendapat evaluasi atau penilaian yang tidak obyektif,
kepadanya diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan sehingga pada
akhirnya ia dapat memahami dan menerima hasil penilaian yang diperolehnya.
d. Hasil
evaluasi atau penilaian yang dilakukan secara berkala itu terdokumentasikan
secara rapi dalam arsip kepegawaian setiap pegawai sehingga tidak ada informasi
yang hilang, baik yang sifatnya menguntungkan maupun merugikan pegawai
bersangkutan;
e. Hasil
evaluasi atau penilaian prestasi kerja setiap orang menjadi bahan yang selalu
turut dipertimbangkan dalam setiap keputusan yang dambil mengenai mutasi
pegawai, baik dalam arti promosi, alih tugas, alih wilayah, demosi maupun dalam
pemberhentian tidak atas permintaan sendiri.
4. Penilaian
kinerja menurut Mondy dan Noe (1993:394) merupakan suatu sistem formal yang secara
berkala digunakan untuk mengevaluasi kinerja individu dalam menjalankan
tugas-tugasnya.
5. Sedangkan
Mejia, dkk (2004:222-223) mengungkapkan bahwa penilaian kinerja merupakan suatu
proses yang terdiri dari:
a. Identifikasi,
yaitu menentukan faktor-faktor kinerja yang berpengaruh terhadap kesuksesan
suatu organisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengacu pada hasil analisa
jabatan.
b. Pengukuran,
merupakan inti dari proses sistem penilaian kinerja. Pada proses ini, pihak
manajemen menentukan kinerja pegawai yang bagaimana yang termasuk baik dan
buruk. Manajemen dalam suatu organisasi harus melakukan perbandingan dengan
nilai-nilai standar atau memperbandingkan kinerja antar pegawai yang memiliki
kesamaan tugas.
c. Manajemen,
proses ini merupakan tindak lanjut dari hasil penilaian kinerja. Pihak
manajemen harus berorientasi ke masa depan untuk meningkatkan potensi pegawai
di organisasi yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian umpan
balik dan pembinaan untuk meningkatkan kinerja pegawainya. Berdasarkan beberapa
pendapat ahli mengenai pengertian penilaian kinerja, terdapat benang merah yang
dapat digunakan untuk menarik kesimpulan bahwa penilaian kinerja merupakan
suatu sistem penilaian secara berkala terhadap kinerja pegawai yang mendukung
kesuksesan organisasi atau yang terkait dengan pelaksanaan tugasnya. Proses
penilaian dilakukan dengan membandingkan kinerja pegawai terhadap standar yang
telah ditetapkan atau memperbandingkan kinerja antar pegawai yang memiliki
kesamaan tugas.
2.
Tujuan
evaluasi kenerja (Performance Evaluation).
Performance
evaluation dilakukan dengan tujuan antara lain :
a.
Mengkomunikasikan
visi, misi, tujuan dan sasaran manajemen kepada karyawan.
Dalam
melakukan evaluasi manajer harus mengkomunikasikan apa yang menjadi visi, misi,
tujuan dan sasaran dari perusahaan. Agar
kamunikasi berjalan dengan baik maka pendekatan kemanusia hendaklah
ditonjolkan. Lakukanlah komunikasi dengan baik. Hindari kekakuan dalam
berhadapan dengan bawahan. Jelaskan bahwa perusahaan membutuhkan karyawan, ajak
mereka untuk mendukung apa yang menjadi visi, misi, tujuan dan sasaran perusahaan.
Jalaskan apa yang menjadi tujuan perusahaan, dan apa kontribusi yang diharapkan
supaya perusahaan maju. Kontribusi masing-masing karyawan tidaklah sama. Tergantung
jenis pekerjaan dan job diskripsinya masing-masing. Dengan mengerti arah
perusahaan, tujuan dan sasaran, maka akan menyadarkan karyawan untuk
berkontribusi guna mencapai tujuan perusahaan. Tekankan prinsip help us to help
you. Kalau perusahaan maju, tentu perusahaan akan dapat memikirkan kontribusi
untuk perbaikan nasib karyawan.
b.
Memotivasi
karyawan untuk meningkatkan kinerja mereka.
Jelaskan
tujuan evaluasi adalah mencari jalan untuk memperbaiki kinerja. Dan itu berlaku
bagi semua karyawan. Perusahaan tidak mengharapkan karyawan tidak berkembang.
Oleh karena itu, upaya menaikan prestasi selalu ditekankan kepada semua
karyawan. Kalaupun tidak bisa mendapat kesempatan maju diperusahaan saat ini,
namun dengan pengalaman kerja yang ada, dan sikap yang baik, tentu akan terbuka
kesempatan untuk memperbaiki karir di tempat yang lain. Setiap upaya baik,
pasti akan ada hasilnya. Itu sudah hukum alam. Hukum tabur tuai. Siapa yang
menabur kebaikan akan menuai kebaikan. Siapa yang menabur prestasi akan menuai
keberhasilan. Oleh karena itu perusahaan sangat berharap untuk selalu ada kerja
sama dalam upaya menaikan prestasi setiap karyawan.
Setiap
orang mempunya keinginan yang kuat untuk memperoleh informasi tentang dirinya.
Menyampaikan prestasi yang baik, akan sangat menyenangkan hati dari individu
yang mendapat penilaian yang baik. Dan sudah tentu hasil positif tersebut akan
menjadi pendorong gairah untuk bekerja labih baik. Penyampaian terima kasih,
pujian secara cepat dan tepat akan berdampak sangat positif bagi karyawan.
Itulah sebabnya feedback menjadi keharusan bagi manajer untuk menyampaikan
kepada karyawan untuk lebih memacu, lebih memotivasi karyawan untuk berprestasi
lebih baik.
c.
Mendistribusikan
penghargaan organisasi seperti meningkatkan gaji dan promosi secara adil.
Perusahaan mengerti bahwa setiap
orang, siapa saja menginginkan ada perbaikan penghasilan terutama melalui
kenaikan gaji. Tentu untuk mencapai hal itu harus ada pra-syarat yang harus
dipenuhi oleh setiap karyawan. Oleh karena itulah tujuan evaluasi adalah
membantu karyawan untuk dapat mencapai tujuan kenaikan gaji. Karyawan yang
dipromosikan harus mencapai standar untuk dapat diusulkan naik gaji, atau mendapatkan
promosi. Itulah sebabnya selalu ada evaluasi atas kinerja. Supaya perusahaan tidak
salah dalam menaikan gaji dan melakukan promsi bagi karyawan.
d. Untuk melakukan penelitian
manajemen (Klingner dan Nabadian 185: 254)
Evaluasi juga harus diketahui sebagai
bagian dari upaya survey yang dilakukan untuk merekam apa sebenarnya yang
menjadi harapan karyawan untuk dapat memacu kinerja mereka. Bisa saja karena
perkembangan perusahaan, manajemen sudah tidak memahami ada apa yang berkembang
di karyawan. Itulah sebabnya diperlukan research.
Melalui
evaluasi inilah dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk melakukan survey pada
karyawan di perusahaan.
3.
Manfaat
dari evaluasi kinerja (performance evaluation):
Setiap melakukan
kegiatan, tentu kita mengharapkan manfaat dari ketiatan, upaya, tindakan atau
perilaku. Evaluasi Performance kerja mempunyai manfaat sbb :
a.
Perbaikan
prestasi kerja.
Perbaikan
prestasi kerja merupakan manfaat yang diperoleh dari evaluasi kinerja karyawan.
Dengan menonjolkan komunikasi yang efektif, serta melakukana pendekatan
kemanusiaan, membangun kesadaran, memberikan motivasi, mencoba meyakinkan,
mempengaruhi dan mengarahkan karyawan, maka diharapkan karyawan akan terdorong
untuk meningkatkan kinerjanya, mejadi lebih kreatif, lebih inovatif dan lebih
proaktif setelah menerima feedback atas hasil kinerjanya.
b.
Penyesuaian
kompensasi.
Evaluasi
kenerja selain untuk diarahkan untuk meningkatkan performance, juga digunakan
untuk menjadi dasar memberikan kompensasi seperti kenaikan gaji atau berupa
bonus yang akan diberikan oleh perusahaan kepada karyawan.
c.
Keputusan
penempatan.
Dengan
adanya evaluasi, manajemen dapat mengetahui kempetensi seseorang. Sehinga
dengan evaluasi tersebut, akan dapat digunakan sebagai dasar untuk menempatkan
karyawan pada posisi atau menempati pekerjaan yang lebih tepat.
d.
Untuk
pelatihan (guna kelancaran, menambah keterampilan).
Melalui
evaluasi, maka manajemen bisa mendapatkan gambaran tentang kemampuan karyawan
menjalankan suatu pekerjaan. Selama perusahaan menemukan bahwa kemunduran
prestasi bukan diakibatkan oleh kesengajaan, atau suatu motif yang tidak baik,
maka perusahaan dapat memberikan training bagi karyawan baik untuk menguasai
pekerjaan atau know hownya, selain itu dapat juga perusahaan gunakan untuk
meningkatkan kemampuan karyawan melaksanakan pekerjaan yang ada, setelah
karyawan tersebut sudah dibekali dengan pengetahuan know how atau pengetahuan
untuk mengoperasikan atau skill dasar dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Contoh
: seorang operator mesin berat seperti excavator. Seseorang harus dilatih
mengoperasikan. Setelah itu, dapat diberikan latihan untuk memperbaiki
excavator tersebut.
e.
Untuk
pengembangan karir.
Seorang
karyawan yang berprestasi dan menunjukan loyalitas kepada perusahaan, dapat
diberikan training untuk pengembangan karir. Contoh : pegawai yang sudah lama,
punya kemampuan baik, berprestasi, loyal, jujur dan cooperative, dapat
diberikan training menajement untuk tingkat supervisor. Dengan harapan suatu
saat ketika menempati posisi supervisor, sudah mempunyai pengetuhuan manajement
khusus untuk supervisor.
f.
Memperbaiki
kesalahan waktu rekrutmen atau penempatan.
Setiap
upaya, keputusan, kebijakan yang dilakukan oleh manusia tidak luput dari
kekeliruan atau kesalahan. Untuk menghindari kesalahan waktu rekrutmen
tersebut, maka salah satu manfaat dari evaluasi adalah untuk dapat memperbaiki
kesalahan tersebut. Dengan evaluasi akan ketahuan bahwa sesungguhnya telah
terjadi kekeliruan pada saat penempatan pada waktu seleksi karyawan. Sejauh
mental karyawan masih baik, dan memiliki ilmu serta skill yang dapat
dimanfaatkan di tempat lain, maka perlu dilakukan rotasi bagi karyawan tersebut
agar kinerjanya lebih baik, lebih efektif, dan bisa lebih bermanfaat untuk
perusahaan.
4.
Prinsip
dalam melakukan evaluasi
Setiap kegiatan, usaha
atau upaya yang dilakukan, haruslah dibangun atas dasar prinsip yang jelas.
Harus mempunyai nilai yang mendasari tindakan tersebut dilakukan, mempunyai
nila kebenaran dan kemanfaatan. Evaluasi dalam pola SQM – Super Quick
Management dilakukan atas prinsip sbb :
a. Objektif.
Untuk
tidak terjadi bias dalam melakukan penilaian, dan tidak menyebabkan kekecewaan dan
menyebabkan demotivasi pada karyawan, maka penilaian harus dilakukan seobjektif
mungkin. Kreteria, dan sistem evaluasi
haruslah jelas dan terukur, mengikuti prinsip manajemen by objective dan
tentunya sejalan dengan performance by objective.
b. Motivasi.
Salah
satu tujuan dari evaluasi adalah untuk memotivasi karyawan. Karena keberhasilah
perusahaan ditentukan oleh keberhasilan karyawan. Oleh karena itu, perusahaan
harus mampu memotivasi karyawan untuk selalu bekerja bersemangat, bergairah,
rajin dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang percayakan oleh
perusahaan
c. Jujur.
Agar
evaluasi tidak membawa dampak negative dalam perusahaan, maka diperlukan
kejujuran dari petugas yang melakukan evaluasi. Evaluasi yang dilakukan dengan
jujur akan menimbukan kepercayaan dan kepatuhan serta keseganan. Oleh karena
itu penting sekali untuk memperhatikan faktor kejujuran dalam melakukan
evaluasi tersebut. Banyak kekacauan diperusahaan timbul hanya karena tidak puas
dengan sistem evaluasi yang dilakukan. Baik dalam hal keterbukaan care
evaluasi, objektivitas tersebih kejujuran.
d.
Falidity,
reliability.
Evaluasi
harus dilakukan dengan menggunakan data yang falid dan dapat dipercaya. Hal ini
dimaksudkan agar tidak menimbulkan rasa tidak percaya, yang akhirnya menimbulkan
kerawanan dalam perusahaan, karena karyawan merasa ada ketidak beresan dalam
evaluasi yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh kaerna itu, diperlukan
kehati-hatian dalam melakukan evaluasi agar tidak menimbulalkan kerawanan
diperusahaan.
5.
Bias
dalam evaluasi
Untuk
menghindari subjectif dari evaluator, maka diperlukan training bagi evaluator
agar mereka bisa bekerja lebih professional. Juga dibutuhkan pengawasan secara
ketat, agar tidak terjadi pertimbangan subjectif karena hubungan teman,
hubungan kesukuan, etnis, agama, atau kedekatan khusus. Semua itu harus dicegah
agar jangan sampai terjadi bias dalam evaluasi. Agar tidak bias, maka perlu
ditunjang oleh suatu sistem dan instrument yang baik, efektif serta dapat
dipercaya baik keabsahan dan keakuratannya.
6.
Teknik
evaluasi.
Metode
Penilaian Kinerja Banyak metode dalam penilaian kinerja yang bisa dipergunakan.
Berikuti ini saya mengutip penilaiaan kerja yang disampaikan oleh Hani Handoko 1985, Management Personalia
dan Sumber Daya Manusia. Jogyakarta:Liberty. Menurut Han Handoko, penilaian
kerja secara garis besar dibagi menjadi dua jenis, yaitu past oriented appraisal methods (penilaian kinerja yang
berorientasi pada masa lalu) dan future
oriented appraisal methods (penilaian kinerja yang berorientasi ke masa
depan), (Werther dan Davis, 1996:350).
a.
Past
based methods adalah evaluasi kinerja atas
kinerja seseorang dari pekerjaan yang telah dilakukannya. Kelebihannya adalah
jelas dan mudah diukur, terutama secara kuantitatif. Kekurangannya adalah
kinerja yang diukur tidak dapat diubah sehingga kadang-kadang justru salah
menunjukkan seberapa besar potensi yang dimiliki oleh seseorang. Selain itu,
metode ini kadang-kadang sangat subyektif dan banyak biasnya.
b.
Future
based methods adalah penilaian kinerja dengan
menilai seberapa besar potensi pegawai dan mampu untuk menetapkan kinerja yang
diharapkan pada masa datang. Metode ini juga kadang-kadang masih menggunakan
past method. Catatan kinerja juga masih digunakan sebagai acuan untuk
menetapkan kinerja yang diharapkan. Kekurangan dari metode ini adalah
keakuratannya, karena tidak ada yang bisa memastikan 100% bagaimana kinerja
seseorang pada masa datang.
Pengklasifikasian pendekatan
penilaian kinerja oleh Wherther di atas berbeda dengan klasifikasi yang
dilakukan oleh Kreitner dan Kinicki (2000). Berdasarkan aspek yang diukur,
Kreitner dan Kinicki mengklasifikasikan penilaian kinerja menjadi tiga, yaitu:
pendekatan trait, pendekatan perilaku dan pendekatan hasil.
a.
Pendekatan
trait adalah pendekatan penilaian
kinerja yang lebih fokus pada orang. Pendekatan ini melakukan perankingan
terhadap trait atau karakteristik individu seperti inisiatif, loyalitas dan
kemampuan pengambilan keputusan. Pendekatan trait memiliki kelemahan karena
ketidakjelasan kinerja secara nyata.
b.
Pendekatan
perilaku, pendekatan ini lebih fokus pada
proses dengan melakukan penilaian kinerja berdasarkan perilaku yang tampak dan
mendukung kinerja seseorang.
c.
Sedangkan
pendekatan hasil, adalah pendekatan yang lebih
fokus pada capaian atau produk. Metode penilaian kinerja yang menggunakan
pendekatan hasil seperti metode management by objective (MBO), (Kreitner dan
Kinicki, 2000:303-304).
Metode-metode penilaian kinerja
yang sesuai dengan pengkategorian dua tokoh di atas yang paling banyak
digunakan menurut Mondy dan Noe (1993:402-414) adalah:
a.
Written
Essays, merupakan teknik penilaian
kinerja yaitu evaluator menulis deskripsi mengenai kekuatan pekerja,
kelemahannya, kinerjanya pada masa lalu, potensinya dan memberikan saran-saran
untuk pengembangan pekerja tersebut.
b.
Critical
Incidents, merupakan teknik penilaian
kinerja yaitu evaluator mencatat mengenai apa saja perilaku/pencapaian terbaik
dan terburuk (extremely good or bad behaviour) pegawai.
c.
Graphic
Rating Scales, merupakan teknik penilaian
kinerja yaitu evaluator menilai kinerja pegawai dengan menggunakan skala dalam
mengukur faktor-faktor kinerja (performance factor ). Misalnya adalah dalam
mengukur tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai. Skala yang digunakan
adalah 1 sampai 5, yaitu 1 adalah yang terburuk dan 5 adalah yang terbaik. Jika
tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai tersebut biasa saja, misalnya,
maka ia diberi nilai 3 atau 4 dan begitu seterusnya untuk menilai faktor-faktor
kinerja lainnya. Metode ini merupakan metode umum yang paling banyak digunakan
oleh organisasi.
d.
Behaviourally
Anchored Rating Scales (BARS), merupakan teknik
penilaian kinerja yaitu evaluator menilai pegawai berdasarkan beberapa jenis
perilaku kerja yang mencerminkan dimensi kinerja dan membuat skalanya. Misalnya
adalah penilaian pelayanan pelanggan. Bila pegawai bagian pelayanan pelanggan
tidak menerima suap dari pelanggan, ia diberi skala 4 yang berarti kinerja
lumayan. Bila pegawai itu membantu pelanggan yang kesulitan atau kebingungan,
ia diberi skala 7 yang berarti kinerjanya memuaskan, dan seterusnya. Metode ini
mendeskripsikan perilaku yang diharapkan sesuai dengan tingkat kinerja yang
diharapkan. Pada contoh di atas, nilai 4 dideskripsikan dengan tidak menerima
suap dari pelanggan. Nilai 7 dideskripsikan dengan menolong pelanggan yang
membutuhkan bantuan. Dengan mendeskripsikannya, metode ini mengurangi bias yang
terjadi dalam penilaian.
e.
Multiperson
Comparison, merupakan teknik penilaian
kinerja yaitu seorang pegawai dibandingkan dengan rekan kerjanya. Biasanya
dilakukan oleh supervisor. Ini sangat berguna untuk menentukan kenaikan gaji
(merit system), promosi, dan penghargaan perusahaan.
f.
Management
By Objectives. Metode ini juga merupakan
penilaian kinerja, yaitu pegawai dinilai berdasarkan pencapaiannya atas
tujuan-tujuan spesifik yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuan-tujuan ini
tidak ditentukan oleh manajer saja, melainkan ditentukan dan disepakati bersama
oleh para pegawai dan manajer.
Setiap metode di atas memiliki
kelemahan dan kelebihannya masing-masing, sehingga tidak baik bagi organisasi
untuk menggantungkan penilaian kinerjanya hanya pada satu jenis metode saja.
Sebaiknya, organisasi menggabungkan beberapa metode yang sesuai dengan lingkup
organisasinya, Mondy dan Noe (1993: 414).
Sumber:
Hani Handoko 1985, Management Personalia dan Sumber Daya Manusia.
Jogyakarta:Liberty.
C.
Feedback.
Pendekatan dalam
memberikan feedback atau umpan balik bagi karyawan.
Ketika sedang melakukan
feedback kepada karyawan, maka perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini :
a.
Tekankan
pada aspek positif prestasi kerja.
Ketika
melakukan umpan balik setelah ada hasil evaluasi, maka penyampaian hasil
evaluasi berupa feedback atau umpan balik haruslah dibatasi pada masalah
prestasi kerja saja. Yang perlu diingat prinsip dalam umpan balik adalah
perbaiki perilakunya jangan serang pribadinya. Salah satu tujuan dari feedback
adalah untuk memotivasi karyawan. Oleh karena itu, fokus pada prestasi kerja
yang positif. Sampaikan apa yang telah dicapai, akui dan sampaikan terima
kasih. Pengakuan prestasi akan menaikan rasa bangga bagi karyawan yang
bersangkutan. Hal itu akan menambah semangat dan gairah kerja bagi karyawan,
dan pada akhirnya akan semakin menaikan prestasi kerja atau minimal karyawan
akan berusaha mempertahankan presasi yang telah dicapai. Pengumuman untuk
karyawan berprestasi di papan pengumuman, atau kalau ada bulletin perusahaan,
akan membanggakan bagi karyawan.
b.
Selenggarakan
review secara pribadi.
Ketika
melakukan umpan balik, jagalah kewibawaan, harga diri karyawan. Manusia tidak
ingin harga dirinya diobral di depan umum. Oleh karena itu kita harus menjaga
kerhormatan staf, dan kerahasiaan tugas. Ketika harga diri dan kehormatan
karyawan terjaga dengan baik, maka mereka juga akan menaru rasa hormat kepada
atasan mereka. Komunikasi antara pimpinan dan bawahan dapat berjalan seimbang,
kerharmonisan dilingkungan perusahaan terpelihara dan dapat berjalan dengan baik, sehingga antara
pimpinan dan bawahan akan saling respect. Ketika pimpinan melupakan tugas yang
mungkin dianggap sepele, seperti menyapa, senyum, memberikan perhatian kecil,
lambat laun dukungan batin dari karyawan akan tidak mereka peroleh. Disitulah
awal kemacetan atau awal tersumbatnya komunikasi antara pimpinan dan bawahan.
Pada saat komunikasi tersumbat, rasa saling curiga muncul, maka interaksi dalam
lingkungan perusahaan akan mengalami kebuntuan, akan berpengaruh pada sikap dan
perilaku karyawan. Dan yang paling dikuatirkan adalah tericiptanya situasi dan
kondisi yang tidak kondusif, yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja
karyawan. Akhirnya tujuan perusahaan akan sulit dicapai.
c.
Review
sesering mungkin.
Review
dengan karyawan harus dilakukan sesering mungkin. Review dimaksudkan untuk
mengkomunikasikan prestasi atau kemajuan yang telah mereka capai. Rewiew atas
hasil yang telah diperoleh, bagaikan peralatan GPS (Geographical Position
System), secamam alat penentu posisi koordinat kita. Melalui GPS, kita akan tau
posisi kita, sehingga kita bisa mengarahkan arah kita untuk menuju tujuan yang
kita hendak capai. Dengan Review, kita
bisa mengetahui posisi prestasi kita ada dimana. Dengan demikian kita akan
mengambil sikap dan langkah untuk maju atau mengubah arah agar bisa sampai ke tujuan
kita.
Dengan
Review dimaksudkan supaya membantu karyawan untuk bisa maju, walaupun terkadang harus membutuhkan kesabaran, karena
butuh proses yang lama, dan harus diulang dan di ulang. Sejauh karyawan masih ada niat, ada kemuan
untuk memperbaiki kinerjanya, dan ada progress yang ditunjukan dari waktu ke
waktu, feedback harus berjalan terus. Nilai positif semakin ditonjolkan untuk
meyakinkan karyawan bahwa mereka sedang mengalami kemajuan.
d.
Ajukan
kritik spesifik yang khusus, bukan yang umum.
Memberikan
kritik atau suatu koreksi untuk prestasi kerja, harus lakukan secara specifik
menuju kepada point kelemahan yang membutuhkan atensi karyawan untuk
diperbaiki. Konsultasi tidak boleh meluas dan menjadi tidak ada arah. Feedback harus
to the point, dimana yang harus diperbaiki. Akui bahwa ada kemajuan dipoint
tertentu, namun masih ada bagian yang harus diperbaiki, tunjukan dengan jelas
dimana yang harus diperbaiki. Tekankan bahwa sesungguhnya karyawan tersebut
bisa berkembang, karena sudah ada bukti di point tertentu ada kemajuan. Tinggal
butuh lebih serius, lebih sungguh-sungguh. Berikan keyakinan bahwa karyawan
tersebut pasti bisa berkembang dan mencapai prestasi yang lebih baik.
e.
Tenang,
dan tidak berdebat dengan orang yang di review.
Karyawan
adalah parterner kerja dari manajer, yang membantu manajer mensukseskan tugas
dibawah pengawasan manajer. Sebagai
partner kerja, janganlah berdebat dengan mereka. Perlakukanlah mereka sebagai
sahabat, sebagai manusia yang perlu kita hormati, jaga perasaannya. Selama
masih ada possibility untuk diperbaiki, lakukan upaya untuk meperbaiki kinerja
yang kurang baik tersebut.
Berdebat
tidak akan membawa perubahan yang berarti bagi karyawan, malah hanya akan
memancing ego mereka naik. Kalau sampai menyentuh masalah ego seseorang, maka
semakin sullit memperoleh respond yang baik dari karyawan. Oleh karena itu,
harus fokus pada prestasi, galilah informasi yang penting dari karyawan untuk
dapat membantu mereka melakukan langkah perbaikan.
Usahakan
karyawan sampai menyadari kekeliruan, kesalahan atau kegagalan mereka dalam
mencapai prestasi yang baik. Ajak mereka agar mau memperbaiki, dan mau bekerja
sama untuk mencari solusi atas masalah, kendalah yang mereka hadapi. Dengan
komunikasi yang efektif, pemberikan perhatian yang tulus, niatan baik untuk
membantu, maka akan membangun kesadaran mereka atas prestasi yang ada, mengerti
alasan kenapa kurang, tunjukan dan ajarkan cara memperbaikinya. Saya percaya
dengan komunikasi yang efektif, lambat laun prestasi, kinerja karyawan dapat
diperbaiki.
f.
Tunjukan
keinginan untuk membantu karyawan untuk menaikan perstasi.
Pendekatan
kemanusiaan selalu menjadi kunci utama dalam mempimpin karyawan. Oleh karena
itu, tunjukan kepada karyawan sewaktu melakukan feedback, bahwa perusahaan pada
prinsipnya mau membantu karyawan untuk maju. Ketulusan, kejujuran kita dalam
menilai, niat yang sungguh-sungguh untuk membantu karyawan, mereka bisa rasakan
dan bisa baca. Kalau sampai ketulusan kita, kejujuran dan kesungguhan kita
membantu karyawan akan menyentuh batin mereka, maka akan menstimulasi kesadaran
mereka. Ketika rasa batin mereka, rasionalitas mereka terbuka, maka akan
membawa pengaruh pada sikap dan perilaku karyawan menuju ke perubahan yang
lebih baik.
g.
Ahkiri
periode evaluasi dengan menekankan aspek positif prestasi kerja karyawan.
Setiap
mengakiri suatu evaluasi dan feedback, selalu beritahukan nilai baik mereka. Fokus
pada prestasi baik mereka, supaya mereka lebih termotivasi untuk memperbaiki point-point
yang masih lemah. Dorong mereka untuk lebih semangat. Arahkan pikiran mereka
untuk melihat jauh kedepan, dorong mereka untuk lebih berimajinasi. Lakukan
visualisasi diri jauh kedepan, komnfirmasikan dengan iman, keyakinan diri, maka
dengan pertolongan Tuhan, apa yang mereka angan-angankan dapat terwujud, dapat
tercapai.
D.
Kecepatan,
Ketepatan dan Ketegasan dalam pemberiah Punisment and Reward.
Kunci
untuk menegakkan aturan, menciptakan kedisiplinan adalah Kecepatan, Ketepatan
dan Ketegasan dalam mengambil tindakan. Menunda memberikan sangsi atau Punishment
bagi pelanggar aturan, ketentuan hukum, hanyalah menghilangkan kewibawaan para
pemimpin dan paran penegak hukum.
Kesalahan,
pelanggaran jangan diberi ruang untuk berkembang sejengkalpun. Itulah prinsip
yang harus dipegang. Sekali kita memberikan torelansi, kompromi, maaf, maka
akan melemahkan penegakkan aturan, atau disiplin dalam lingkungan kerja,
ataupun di masyarakat.
Rasa kasihan, rasa sayang, rasa
ibah, rasa prihatin, rasa tidak tega, dengan alasan apapun, tidak dapat digunakan untuk membela kesalahan
dan pelanggaran.
Saya
sangat terinspirasi dengan seorang dosen di Universitas Klabat sewaktu saya
masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut. Prof Dr. Daniel Kambey.
Salah satu dosen yang saya sangat banggakan. Beliau sangat ramah, baik kepada
siapa saja di Kampus. Waktu itu, beliau menjabat sebagai Purek III, membidangi
Urusan Kemahasiswaan. Masalah aturan, pendisiplinan, ijin keluar masuk kampus,
semua ada di bawah kendali beliau. Prof. Dr Kambey sangat baik, selalu senyum
dan ramah kepada Mahasiswa. Namun jangan coba-coba bernegosiasi kalau sudah
masalah disiplin. Dikampus kami waktu itu, ada 4 (empat) hal yang tidak bisa
dikompromikan, yaitu, kasus pencurian, kasus
perkelahian, kasus mabuk karena alkohol atau karena mengkonsumsi obat
terlarang, dan kasus mengisap rokok. Untuk 4 (empat) macam kesalahan
tersebut, mahasiswa langsung dikeluarkan dari Kampus, dan tidak bisa mengikuti
kegiatan perkuliahan selama 1 (satu) semester.
Ada
beberapa kasus, dimana ada anak dari pengerja di Misi Gereja Advent, karena
telah kedapatan melakukan salah satu dari 4 (empat) bentuk pelanggaran
tersebut, tetap tidak ada toleransi. Semuanya dikeluarkan dari Kampus. Itulah sebabnya sewaktu saya kuliah di Kampus
tersebut, jarang terjadi kasus menyangkut 4 (empat) jenis penlanggaran
tersebut. Karena sangsinya berat dan tidak ada kelonggaran sedikitpun dari Prof.
Dr. Daniel Kambey. Sungguh luar biasa
beliau tersebut. Sangat dekat dihati Mahasiswa karena kebaikan, keramahannya, dan
perhatiannya, namun sangat dihormati, disegani karena ketegasannya.
Dalam
menyikapi hasil evaluasi, para atasan langsung di perusahaan haruslah
memperhatikan hasil evaluasi tersebut. Segera ambil sikap setelah melakukan
evaluasi dengan melakukan hal-hal sbb :
1.
Kalau
hasil evaluasi baik, maka pada saat feedback, langsung
berikan Reward. Reward pertama dalam bentuk pujian secara lisan. Ambil tindakan
cepat dan tepat untuk mengkui setiap prestasi yang baik. Setelah pujian,
lanjutkan dengan memberikan hadiah dalam bentuk materi. Pemberikan materi, tentu
harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan. Mungkin kenaikan gaji,
pemberian bonus khusus atau berupa promosi jabatan. Apapun jenis hadiahnya,
yang penting adalah harus diberikan sesegera mungkin. Untuk ketepatan hadiah
yang diberikan, atasan langsung yang paling tau, serta perusahaan dimana
karyawan bekerja yang paling mengetahui situasi dan kondisi perusahaannya.
2.
Kalau
hasil evaluasi tidak baik, atau performancenya rendah, makan
perlu dilihat lagi 4 ( empat) hal sbb :
a.
Apakah
prestasi rendah dikarenakan karyawan belum tau mengerjakan tugasnya,
sehingga belum mahir melakukannya, namum masih ada kemauan untuk bekerja, maka
dalam kasus tersebut, perusahaan harus mengambil sikap agar dengan segera
memberikan pelatihan, baik itu berupa inhouse training, atau mengirim mengikuti
pelatihan di institusi lain yang secara khusus menyelenggarakan pelatihan
tersebut.
b.
Kalau
prestasinya buruk karena kesalahan rekrutmen atau penempatan kerja,
namun karyawannya ada kemauan kerja, menunjukan loyalitas yang baik, dan mudah
diatur, maka harus dilakukan rotasi ke tempat kerja yang lain dalam lingkungan
perusahaan tersebut.
c.
Jika
prestasi yang rendah karena salah dalam rektrutmen,
dan kesalahan yang diperoleh waktu wawancara, dan dari hasil evaluasi karyawan
tersebut tidak bisa bekerja sama, serta
tidak menunjukan etikat yang baik, maka harus dengan segera dilakukan pemutusan
hubungan kerja, apalagi kalau masih dalam masa percobaan.
d.
Jika prestasi yang rendah dikarenakan
oleh motif tidak baik, dan karena sikap mental yang buruk, jika masih dalam
masa percobaan, segera lakukan pemutusan hubungan kerja. Namun kalau sudah melewati
masa percobaan, dan sudah diangkat menjadi karyawan tetap, maka segera berikan
sangsi berupa teguran lisan, kalau belum berubah, disusuli dengan teguran
tertulis sampai 3 kali, mengikuti aturan depnaker. Setelah peringatan ke tiga
masih juga tidak ada perubahan, maka harus segera lakukan pemutusan hubungan
kerja.
Catatan khusus :
Untuk kasus menyangkut pelanggaran pada disiplin kerja, dan sudah terjadi pelanggaran
hukum, maka harus segera diambil tindakan untuk membebas tugaskan karyawan dari
jabatan, atau tugasnya, dan tidak boleh terlibat dalalm aktifitas perusahaan,
dan harus dirumahkan. Gajinya disesuiakan tergantung pada kebijakan perusahaan.
Apabila keputusan perkara sudah memiliki kekuatan hukum tetap, maka harus
dilakukan pemutusan hubungan kerja, dengan membayar seluruh haknya yang melekat
diperusahaan.
F.
Rangkuman
dari tahapan ketiga dalam fungsi SQM – Super Quick Management yaitu
“Appraisement” adalah sbb :
1. Evaluasi
hendaknya dilakukan untuk maksud memotivasi bagi karyawan yang berprestasi
baik, untuk dapat mempertahankan atau lebih memacu prestasinya serta membangun
kesadaran bagi karyawan yang berprestasi redah, untuk segera berpacu untuk
mencapai prestasi yang lebih baik.
2. Evaluasi
dimanfaatkan untuk rencana kenaikan gaji, promosi dan penjenjangan karir bagi
karyawan yang berprestasi.
3. Evaluasi
dimaksudkan untuk menjadi sarana survey bagi perusahaan untuk mengetahui
perkembangan yang terjadi ditengah karyawan, dan dijadikan dasar untuk
menentukan kebijakan perusahaan kedepan.
4. Evaluasi
harus dibangun dalam prinsip; objektif, memotivasi, menjunjung tinggi
kejujuran, serta didukung oleh data yang valid dan reliable.
5. Hasil
evaluasi haruslah disampaikan kepada karyawan dalam bentuk feedback.
6. Feedback
yang baik haruslah dilakukan dengan memperhatikan aspek;
a. Penekanan
pada prestasi saja, tidak melibatkan masalah pribadi.
b. Menonjolkan
privacy (kerahasiaan) seseorang. Karena setiap orang ada harga diri yang selalu
dijaga. Oleh karena itu melakukan feedback harus dilakukan secara pribadi dan
dengan komunikasi yang efektif.
c. Lakukan
review sesering mungkin, untuk menunjukan bahwa kita ada perhatian kepada
karyawan. Untuk bisa memantau perkembangan dari waktu ke waktu. Dan sarana
untuk pendekatan yang efektif kepada karyawan.
d. Lakukan
penekanan pada aspek yang positif dan harus spesifik, agar karyawan mengetahui
langsung pada aspek mana yang sudah baik, dan pada aspek mana yang harus
diperbaiki.
e. Hindari
berdebat dengan karyawan ketika sedang melakukan feedback.
f. Tekankan
bahwa dalam melakukan feedback adalah upaya menolong karyawan bukanlah upaya
mencari salah atau kelemahan.
g. Lakukan
upaya yang membangunkan semangat, dan akhiri pertemuan dengan kesan yang baik
bagi karyawan.
7. Tindakan
yang harus dilakukan menyikapi hasil evaluasi adalah ;
a. Jika
hasil evaluasi baik, segera berikan penghargaan berupa ucapan terima kasih,
pujian dan janji kenaikan gaji, atau promosi serta rencana promosi bagi
karyawan tersebut. Untuk membicarakan kenaikan gaji, promosi, dan jenjang karir
harus dilakukan lebih hati-hati, perhatikan kondisi perusahaan.
b. Jika
hasilnya kurang baik, perlu deperhatikan hal sebagai berikut ;
-
Kalau karyawan punya keinginan bekerja,
namun belum menguasai pekerjaan, maka perlu diberikan training.
-
Kalau prestasi tidak baik hanya karena
kesalahan rekrutment dan kesalahan penempatan kerja, lalukan rotasi kerja
ketempat yang lebih cocok.
-
Kalau karyawan tidak punya keinginan
bekerja, karena merasa kurang cocok dengan pekerjaan tersebut, kalau masih
dalam masa percobaan, cepat dilakukan pemutusan hubungan kerja.
-
Kalau karyawan tidak punya keinginan
bekerja, serta ada motif lain yang bisa merugikan perusahaan, kalau sudah
melewati masa percobaan maka perlu dilakukan peringatan, mulai dari peringatan
lisan, lalu tertulis samapi 3 kali, sesuai ketentuan depnaker. Dan kalau sampai
3 kali peringatan tertulis namun tetap tidak ada perubahan, lakukan upaya
pemutusan hubungan kerja dengan mengacu kepada ketentuan depnaker.
8. Dalam
kasus karyawan melakukan kesalahan fatal yang merugikan perusahaan seperti
mencuri, atau secara sengaja merusak barang milik perusahaan, harus dengan
segera dilaporkan ke pihak berwajib, dan dilakukan pe-non-aktifan karyawan dari
tugasnya, lalu di rumahkan, sampai ada keputusan pengadilan yang mempunyai
kekuatan hukum tetap, baru dilakukan pemutusan hubungan kerja, dengan mengacu
kepada ketentuan depnaker.
Demikianlah
keseluruhan proses manajemen SQM – Super Quick Management ini saya sampaikan
untuk dapat dijadikan panduan dalam menjalankan fungsin management dengan
mengedepankan hubungan kemanusiaan yang berdasarkan Cinta Kasih, dipadukan
dengan penerapan sikap Cepat, Tepat dan Tegas dalam menyikapi setiap perilaku
dan kinerja karyawan. Semoga buku ini bisa bermafaat bagi para Supervisor,
Manajer atau Pimpinan di perusahaan, lembanga sosial, ataupun di institusi
pemerintah dalam menjalankan aktifitas manajement pada lingkungan
masing-masing. Semoga Tuhan selalu menolong kita semua. Amin.
HUBUNGI SAYA DI
email : lombohelfried@gmail.com
Phone: +6281385893809; +6281293766633
Langganan:
Postingan (Atom)





