Entri yang Diunggulkan

THE NEW ERA - CYBERSPACE (DUNIA MAYA), SIAPA YANG MENGENDALIKANNYA

THE NEW ERA – CYBERSPACE (DUNIA MAYA) SIAPA YANG MENGENDALIKANNYA Peradaban dunia kini berubah begitu cepat, dunia seakan menjadi kec...

Minggu, 20 Maret 2016

MENGULAS SEJARAH , ARTI DAN MAKNA PASKAH

ASAL MUASAL PASKAH :
Matzo, pengganti tradisional untuk roti yang dimakan pada saat hari raya Pesakh.
Festival Pesakh umat Yahudi, atau Paskah Yahudi (Ibrani,dan Yiddish: פֶּסַח, Tiberias:  pɛsaħ,  Ibrani:  Pesach,  Pesah,  Pesakh; bahasa Inggris: Passover), adalah perayaan yang dirayakan pada hari ke-14 dalam bulan yang disebut Nisan (Imamat 23:4; Bilangan 9:3-5Bilangan 28:16), bulan pertama kalender Ibrani selama delapan hari. Festival ini berakhir pada hari ke-21 Nisan diIsrael, dan hari ke-22 Nisan di luar Israel dan dirayakan untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Selama seminggu itu hanya roti yang tidak beragi (bahasa Inggris: unleavened bread) yang boleh dimakan, sehingga hari-hari itu juga disebut Hari Raya Roti Tidak Beragi
Ada tiga mitzvah yang biasanya dihubungkan dengan peringatan ini, yaitu: memakan matzoh, atau roti tidak beragi; larangan memakan makanan apapun yang mengandung ragi pada hari raya ini; dan penyampaian kembali peristiwa Keluaran (Mitzrayim). Di zaman dahulu (dan bahkan sampai sekarang di antara orang Samaria, ada peristiwa keempat yang dilakukan yaitu: persembahan kurban anak domba pada malam tanggal 14 Nisan (juga dikenal sebagai Aviv) dan memakan kurban Paskah pada malam itu. Perintah untuk mengisahkan kembali peristiwa pembebasan ini dilakukan melalui sebuah upacara komunal yang disebut seder, yang dirayakan pada dua malam pertama dari hari raya ini (di Israel, hanya pada malam pertama). Kebiasaan lainnya yang terkait dengan Paskah Yahudi ini adalah memakan sejenis tanaman pahit dan makanan-makanan lain yang khas untuk makan malam seder. Sementara ada banyak alasan diberikan untuk memakan matzoh, Kitab Keluaran menjelaskan bahwa hal ini memperingati roti yang dimakan bangsa Israel pada peristiwa Keluaran: karena tergesa-gesa meninggalkan Mesir, mereka tidak mempunyai waktu untuk menunggu adonan rotinya naik.
Asal usul perayaan paskah
Istilah Paskah berasal dari Alkitab Ibrani, yang pertama kali disebutkan dalam Kitab Keluaran. Dalam bahasa Inggris, istilahnya diterjemahkan menjadi Passover, yang berarti melewatkan.
Perayaan ini diduga sebenarnya berasal dari perayaan Keni yang diberi makna baru oleh Israel. Bagi Israel, perayaan ini adalah hari peringatan akan terlepasnya mereka dari perbudakan bangsa Mesir.
Wabah terakhir dari wabah di Mesir, yaitu pembunuhan atas semua anak sulung, seperti halnya wabah-wabah lainnya, tidak melanda bangsa Israel. 
Torah menyatakan bahwa ketika melihat percikan darah anak domba di pintu-pintu rumah orang Israel, Allah melewatkan rumah-rumah mereka. Kata kerja aslinya dalam Torah adalah posach. Bentuk kata bendanya, pesach, juga muncul pada pasal yang sama, dalam acuan kepada anak domba itu (kadang-kadang juga diacu sebagai anak domba Paskah) yang dikurbankan sebelumnya hari itu dan kemudian dimakan pada malam itu: "buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagiTUHAN."(Keluaran 12:11). https://id.wikipedia.org/wiki/Paskah_Yahudi

PENGGUNAAH ISTILAH PASKAH SETELAH KEMATIAN YESUS
Paskah (bahasa Latin: Páscha, bahasa Yunani: Πάσχα, Paskha; bahasa Aram: פַּסחא‎ Pasḥa; dari bahasa Ibrani: פֶּסַח Pesaḥ adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah"; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam keempat Injil di Perjanjian Baru. Perayaan ini juga dinamakan Minggu Paskah, Hari Kebangkitan, atau Minggu Kebangkitan.
Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya "hari kelima puluh" - hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskaholeh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.
Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (kekristenan ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (kekristenan ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya ("bulan purnama" gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi)
Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: פסח atauPesakh dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.
Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskahtelur Paskah, dan mengirim kartu Paskah telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen.

PASKAH DALAM KEKTRISTENAN

Paskah merupakan perayaan tertua di dalam gereja Kristen, penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paus Leo Agung (440-461) menekankan pentingnya Paskah dan menyebutnya festum festorum - perayaan dari semua perayaan, dan berkata bahwa Natal hanya dirayakan untuk mempersiapkan perayaan Paskah.
Menurut tradisi Sinoptik, Paskah menunjuk pada Perjamuan Kudus, yang didasari dari Perjamuan Malam, perjamuan perpisahan antara Yesus dan murid-murid Yesus. Pada malam itu sebelum Yesus dihukum mati, Yesus memberikan makna baru bagi Paskah Yahudi. Roti dilambangkan sebagai tubuh Yesus dan anggur dilambangkan sebagai darah Yesus, yaitu perlambangan diri Yesus sebagai korban Paskah. Rasul Yohanes dan Pauluslah yang mengaitkan kematian Yesus sebagai penggenapan Paskah Perjanjian Lama (Yesus wafat pada saat domba-domba Paskah Yahudi dikorbankan di kenisah atau Bait Allah). Kematian dan kebangkitan Yesus inilah yang kemudian diasosiasikan dengan istilah Paskah dalam kekristenan.
Karena Paskah dirayakan oleh gereja-gereja Kristen dengan suatu sakramen Ekaristi/Perjamuan Kudus, maka sakramen tersebut dapat pula disebut sebagai Perjamuan Paskah Kristen, atau Perjamuan Kudus Jumat Agung, yang berbeda dari Perjamuan Paskah Yahudi. Banyak gereja Kristen saat ini merayakan perjamuan tersebut lebih dari setahun sekali agar jemaat gereja selalu diingatkan akan peristiwa Paskah.
Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kata Paskah disebutkan sebanyak 80 kali dalam 72 ayat.
Gereja mula-mula memperingati peristiwa kebangkitan Yesus dengan perjamuan sederhana dan berdoa. Kemudian dalam perjalanan misinya, Paulus terus mengingatkan jemaat gereja mula-mula akan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus dan perkataan Yesus pada waktu Perjamuan Malam Terakhir. Sumber yang paling awal yang menulis tentang Paskah adalah Melito dari Sardis yang menulis homili berjudul Peri Pascha (Tentang Paskah). Orang-orang Kristen pada zaman tersebut menapak tilas jalan salib (Via Dolorosa) yang dilalui oleh Tuhan Yesus. Kematiannya diperingati sebagai korban keselamatan dalam tradisi Yahudi (bahasa Ibrani: Zerah Syelamin).
Orang Kristen Yahudi terus merayakan Paskah Yahudi, namun mereka tidak lagi mengorbankan domba Paskah karena Kristus dianggap sebagai korban Paskah yang sejati. Perayaan ini diawali dengan berpuasa hingga Jumat jam 3 sore (ada yang melanjutkan hingga pagi Paskah). Perbedaan timbul di seputar tanggal Paskah. Orang Kristen Yahudi dan jemaat provinsi Asia merayakannya pada hari yang bersamaan dengan Paskah Yahudi, yaitu sehari setelah tanggal 14 Nisan (bulan pertama) menurut kalender mereka - kematian Yesus pada 15 Nisan dan kebangkitan Yesus pada 17 Nisan - tanpa mempedulikan harinya; namun orang Kristen non-Yahudi yang tinggal di Kekaisaran Romawi dan juga gereja di Roma dan Aleksandria merayakannya pada hari pertama, yaitu hari Minggu - hari kebangkitan Yesus, tanpa mempedulikan tanggalnya. Metode yang kedua inilah yang akhirnya lebih banyak digunakan di gereja, dan penganut metode yang pertama perlahan-lahan mulai tergusur. Uskup Viktor dari Roma pada akhir abad ke-2 menyatakan perayaan menurut tanggal 14 Nisan adalah bidat dan mengucilkan semua pengikutnya. Beberapa metode penghitungan yang lain di antaranya oleh beberapa uskup di Galia yang menghitung Paskah berdasarkan tanggal tertentu sesuai kalender Romawi, yaitu 25 Maret memperingati kematian Yesus dan 27 Maret memperingati kebangkitan Yesus karena sejak abad ke-3 tanggal 25 Maret dianggap sebagai tanggal penyaliban. Namun metode yang terakhir ini tidak digunakan lama. Banyak kalender pada Abad Pertengahan yang mencatat tanggal perayaan ini (25 dan 27 Maret) untuk alasan historis, bukan liturgis]. Kaum Montanis di Asia Minor merayakan Paskah pada hari Minggu pertama setelah 6 April. Berbagai variasi perhitungan tanggal Paskah tersebut terus berlangsung hingga abad ke-4.
Perselisihan seputar penghitungan hari Minggu Paskah yang tepat tersebut akhirnya dibahas secara resmi pada Konsili Nicea I pada tahun 325 yang memutuskan bahwa hari Paskah adalah hari Minggu, namun tidak mematok hari Minggu tertentu. Kelompok yang merayakan Paskah dengan perhitungan Yahudi dinamakan "Quartodeciman" (bahasa Latin untuk 14) (Nisan) dan dikucilkan dari gereja. Uskup Aleksandria kemudian ditugaskan untuk mencari cara menghitung tanggal Paskah, karena kota itu dianggap sebagai otoritas tertinggi untuk hal-hal yang berhubungan dengan astronomi, dan sang uskup diharapkan dapat memutuskan hasilnya untuk diikuti keuskupan-keuskupan yang lain. Namun hasil yang diperoleh tidak memuaskan, terutama untuk gereja-gereja Latin. Banyak gereja masih memakai cara mereka sendiri-sendiri, termasuk gereja di Roma. Akhirnya baru pada abad ke-7 gereja-gereja berhasil mencapai kesepakatan mengenai perhitungan tanggal Minggu Paskah. (lebih lanjut lihat#Tanggal Paskah)

 

Paskah menurut kalender liturgi

Pada kekristenan ritus Latin (Barat), Paskah menandai berakhirnya masa Pra-Paskah, yaitu 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menjelang Minggu Paskah. Sepekan sebelum Minggu Paskah disebut sebagai Pekan Suci. Hari Minggu sebelum Minggu Paskah, yaitu hari pertama Pekan Suci, adalah hari Minggu Palma yang memperingati masuknya Yesus ke kota Yerusalem menaiki seekor keledai. Tiga hari terakhir sebelum Minggu Paskah disebut sebagai Kamis Putih atau Kamis Suci, Jumat Agung, dan Sabtu Suci atau Sabtu Sunyi, yang ketiganya sering disebut sebagai Trihari Suci atau Triduum Paskah; Kamis Putih memperingati Perjamuan Malam terakhir Yesus, Jumat Agung memperingati kematian Yesus, dan Sabtu Suci memperingati hari pada saat Yesus di dalam kuburan.
Banyak gereja yang mulai merayakan Paskah semalam sebelumnya, yaitu dengan kebaktian Malam Paskah. Pada beberapa negara, Minggu Paskah dirayakan selama dua hari hingga Senin Paskah, dan hari-hari dalam sepekan setelah Minggu Paskah, yang disebut dengan Pekan Paskah, masing-masing diberi akhiran Paskah, seperti "Selasa Paskah", "Rabu Paskah", hingga Oktaf Paskah, yaitu hari Minggu setelah Minggu Paskah. 40 hari (yang kemudian diperpanjang menjadi 50 hari atau 7 minggu) setelah Paskah biasa disebut dengan masa Paskah yang diakhiri dengan hari Pentakosta (hari ke-50).
Pada kekristenan ritus Oriental (Timur), masa persiapan Paskah dikenal dengan nama masa Puasa Besar dan dimulai sejak Senin Bersihselama 40 hari (termasuk hari Minggu). Pekan terakhir dalam masa persiapan itu disebut dengan Pekan Palma, yang berakhir dengan hariSabtu Lazarus. Sehari setelah itu adalah Minggu Palma, Pekan Suci, lalu Minggu Paskah. Pada Sabtu tengah malam menjelang Minggu Paskah perayaan Paskah resmi dimulai, yang terdiri atas Matins, Jam-jam Paskah, dan Liturgi Surgawi Paskah; dengan demikian liturgi tersebut dijamin merupakan liturgi pertama Minggu Paskah, sesuai gelarnya sebagai festum festorum - perayaan dari semua perayaan. Pekan setelah Minggu Paskah disebut sebagai Pekan Terang, sedangkan masa setelah Minggu Paskah hingga Minggu Para Kudus (hari Minggu setelah Pentakosta) disebut sebagai Pentakostarion.

 

PASKAH DI GEREJA MODEREN.

Di dalam gereja-gereja Kristen, terutama Ritus Latin, perayaan dimulai pada hari Jumat Agung. Gereja-gereja biasanya menyelenggarakan kebaktian pada hari tersebut, umat Katolik Roma biasanya juga berpuasa pada hari ini. Misanya diliputi dengan perasaan duka karena memperingati sengsara penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib. Gereja-gereja Protestan biasanya melanjutkan kebaktian dengan sakramen Perjamuan Paskah untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir Yesus; lagu-lagu sendu seperti "Jangan Lupa Getsemani juga dinyanyikan. Sang pastor atau pendeta kadang-kadang memberikan kotbah singkat. Gereja Katolik Roma tidak merayakan Sakramen Ekaristi pada hari ini, dalam situasi normal juga tidak dilayankan Sakramen Pengakuan Dosa dan Pengurapan Orang Sakit. (lebih lengkapnya lihat Jumat Agung)
Pada hari Sabtunya gereja-gereja Katolik dan beberapa gereja Anglikan dan Lutheran juga menyelenggarakan kebaktian malam Paskah. Dalam kebaktian itu sebuah lilin Paskah dinyalakan untuk melambangkan Kristus yang bangkit; Exultet atau proklamasi Paskah dinyanyikan; ayat-ayat Alkitab dari Perjanjian Lama yang menceritakan keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan nubuatan tentang Mesias dibacakan. Bagian kebaktian ini mencapai puncaknya dengan menyanyikan Gloria dan Alleluia, dan Injil tentang kisah kebangkitan dibacakan. Sama seperti kebaktian Jumat Agung, sang pastor atau pendeta kadang-kadang juga menyampaikan kotbah sesudah pembacaan Alkitab. Bagi gereja Katolik Roma, malam ini biasanya juga digunakan untuk sakramen baptisan kudus, malam penerimaan anggota jemaat gereja yang baru. Untuk anggota jemaat yang lain, mereka juga menerima percikan air suci sebagai lambang perbaruan iman kepercayaan mereka. Kebaktian pada gereja-gereja Katolik Roma kemudian dilanjutkan dengan sakramen Konfirmasi. Kebaktian kemudian diakhiri dengan sakramen Ekaristi. Kebaktian malam Paskah ini memiliki bermacam-macam variasi. Beberapa gereja mengadakannya pada
Umat Protestan biasanya menggabungkan kebaktian malam Paskah dengan kebaktian Minggu pagi, yaitu mengikuti kisah di Injil yang menceritakan para wanita yang datang ke kubur Yesus pada pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu. Ada gereja yang menyelenggarakannya pada sekitar subuh (kebaktian subuh), dan biasanya dilangsungkan di luar ruangan seperti halaman gereja atau taman di dekat gereja, namun banyak pula yang merayakannya setelah matahari terbit. Kebaktian Minggu untuk memperingati kebangkitan Yesus ini (baik bersama-sama atau berbeda dari kebaktian subuh tersebut) dirayakan dengan sikap penuh sukacita, termasuk lagu-lagu yang dinyanyikan juga lagu yang bernuansa kemenangan. Gereja-gereja yang cukup besar ada yang menggunakan instrumen-instrumen tiup (trompet, dll) untuk melengkapi instrumen-instrumen yang biasa digunakan. Kebanyakan gereja juga mendekorasi ruang ibadah dengan hiasan-hiasan dan bunga-bungaan (contohnya Bakung Paskah)

ETIMOLOGI
Istilah Paskah dalam bahasa-bahasa Latin biasanya diturunkan dari salah satu dari dua sumber: Paskha atau Pesakh danEstre/Eostre atau Easter. Dalam bahasa-bahasa Slavia, biasanya istilah yang digunakan memiliki arti "Hari Agung".

 

Bahasa-bahasa Semitik, Roman, Keltik, Jermanik, dan Indonesia

Istilah Yunani untuk Paskah, paskha/pascha, tidak ada hubungannya dengan kata kerja paschein, "menderita", meskipun para penulis simbolis sering menghubungkan keduanya; kata tersebut berasal dari bentuk bahasa Aram untuk kata dalam bahasa Ibrani pesach. Orang Yunani menyebut Paskah pascha anastasimon; Jumat Agung pascha staurosimon. Kata setara yang digunakan di dalam bahasa Latin adalah Pascha resurrectionis dan Pascha crucifixionis. Di dalam buku liturgi Katolik Romawi perayaannya diberi nama Dominica Resurrectionis; di buku liturgi Mozarabik In Lætatione Diei Pasch Resurrectionis; di buku liturgi Ambrosius In Die Sancto Paschæ.. Bahasa-bahasa Romans telah mengambil istilah Ibrani-Yunani tersebut: Latin, Pascha; Italia, Pasqua; Spanyol, Pascua;Perancis, Pâques. Beberapa negara-negara Keltik dan Teutonik juga menggunakannya: Skotlandia, Pask; Belanda, Paschen (kata dalam bahasa Belanda yang betul sebenarnya adalah Pasen); Denmark dan Norwegia, Påske; Swedia: Påsk (Huruf å merupakan huruf 'a' berganda dan dieja /o/, ejaan alternatifnya adalah Paaske atau Paask.);  Islandia: Páskar; Faroe:  Páskir; bahkan di beberapa provinsi Jerman di Rhein Hulu menggunakan istilah  Paisken, bukan Ostern. Istilah tersebut, terutama di Spanyol dan Italia, mengalami perluasan makna dan memiliki makna tambahan "keheningan" dan digunakan untuk perayaan-perayaan lainnya, Pascua florida(Minggu Palma); Pascua de Pentecostes (Pentakosta); Pascua de la Natividad (Natal); Pascua de Epifania (Epifani) di Spanyol; Pasko(Natal); Pasko ng Pagkabuhay (Paskah Kebangkitan) di Filipina.  Di beberapa wilayah di Perancis kebaktian Komuni Pertama juga disebut dengan Pâques, tidak peduli kapan dilangsungkannya.
Orang-orang Kristen berbahasa Arab atau bahasa Semitik lainnya kebanyakan menggunakan istilah Pesaḥ. Istilah bahasa Arab untuk perayaan ini: عيد الفصح ʿĪd al-Fiṣḥ,[ʕiːd ælfisˤħ] memiliki akar kata F-Ṣ-Ḥ, yang masih kognasi dengan Ibrani P-S-Ḥ. Bahasa Arab juga menggunakan istilah عيد القيامة ʿĪd al-Qiyāmah, [ʕiːd ælqiyæːmæh], yang berarti "perayaan kebangkitan",  walaupun istilah ini lebih jarang digunakan.
Bahasa Indonesia menggunakan istilah Paskah. Demikian juga bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan bahasa-bahasa Nusantara lainnya.

 

Bahasa-bahasa Anglo-Saxon

Dalam bahasa Inggris, istilah Easter (Paskah) menurut Bede berasal dari bahasa Saxon, yaitu kata Ēastre atau Ēostre (Templat:IPA-ang) yang masih berhubungan dengan Estre, seorang dewi bangsa Teutonik, dewi cahaya fajar dan musim semi, yang perayaannya berdekatan dengan perayaan Paskah, yang sudah tidak dikenal lagi pada zaman Bede, bahkan di "Edda"; bahasa Anglo-Saxon, termasuk Inggris: eâster, eâstron Jerman Kono: ôstra, ôstrara, ôstrarûn; Jerman: Ostern. April disebut easter-monadh. Bentuk plural eâstron digunakan, karena perayaannya berlangsung selama tujuh hari. Seperti bentuk plural dalam bahasa Perancis Pâques, istilah tersebut diterjemahkan dari bahasa Latin Festa Paschalia, seluruh Oktaf Paskah.

Bahasa-bahasa Slavia

Di dalam bahasa-bahasa Slavia istilah yang digunakan biasanya berarti "Hari Agung" atau "Malam Agung". Polandia dan Ceko, Wielkanoc dan Velikonoce yang berarti "Malam(-malam) Agung"; Ukrainia, Великдень (Velykden); Bulgaria, Великден (Velikden); Belarusia, Вялікдзень (Vyalikdzyen) yang berarti "Hari Agung".
Serbia, Bosnia, dan Kroasia menggunakan istilah Uskrs yang berarti "Kebangkitan". (Tiga istilah yang digunakan dalam aksara Sirilik dan Latin: Ускрс->Uskrs, Васкрс->Vaskrs, Вeликден->Velikden)
Rusia adalah perkecualian; ia menggunakan istilah Пасха (Paskha) yang meminjam dari bentuk Yunani melalui bahasa Gereja Slavonia Lama.
Paskah (dan perayaan lain yang berhubungan) yang merupakan hari terpenting dalam kalender gerejawi disebut sebagai perayaan yang berpindah, yang berarti perayaannya tidak terpaku pada tanggal tertentu di dalam kalender Gregorian maupun Julian (yang sama-sama mengikuti perputaran matahari dan keempat musim) melainkan dihitung menurut kalender suryacandra seperti kalender Ibrani. Hal inilah yang mendasari ilmuwan-ilmuwan mempelajari astronomi secara sistematis.
Di dalam kalender Gregorian, Paskah selalu jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret dan 25 April (inklusif). Hari berikutnya, Senin Paskah, merupakan hari libur di banyak negara dengan tradisi Kristen yang kuat. Untuk negara-negara yang mengikuti kalender Julian untuk perayaan-perayaan keagamaan, Paskah juga jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret (KJ) dan 25 April (KJ), yang dalam kalender Gregorian adalah 4 April-8 Mei (inklusif).
Tanggal Paskah yang tepat pernah menjadi pokok perdebatan. Di dalam Konsili Nicaea I pada 325 diputuskan bahwa seluruh umat Kristen akan merayakan Paskah pada hari yang sama, yang akan dihitung secara berbeda dari perhitungan umat Yahudi untuk menentukan tanggal Paskah Yahudi. Karena tidak adanya catatan keputusan konsili yang selamat hingga zaman modern, ada kemungkinan bahwa konsili tersebut tidak memutuskan cara tertentu untuk menghitung tanggal Paskah. Epifanius dari Salamis menulis pada pertengahan abad ke-4: Pada tahun berikutnya, cara perhitungan yang dikerjakan oleh gereja Aleksandria menjadi standar perhitungan. Secara perlahan sistem tersebut mulai tersebar ke gereja-gereja Kristen di Eropa. Gereja Roma meneruskan penggunaan siklus kalender suryacandra yang berusia 84 tahun sejak akhir abad ke-3 hingga 457. Gereja Roma terus menggunakan caranya sendiri hingga abad ke-6 saat metode Aleksandria telah dikonversikan ke kalender Julian oleh Dionysius Exiguus. Gereja mula-mula di Britania dan Irlandia juga menggunakan metode Roma yang lama tersebut hingga Sinode Whitby tahun 664 saat mereka mulai menggunakan metode Aleksandria. Gereja-gereja di belahan barat Eropa menggunakan metode Roma hingga akhir abad ke-8 pada masa pemerintahan Karel yang Agung, lalu mereka menggunakan metode Aleksandria. Namun, sejak Gereja Katolik mulai menggunakan kalender Gregorian menggantikan kalender Julian sejak 1582 dan Gereja Ortodoks Timur tetap berpegang pada kalender Julian, maka perayaan Paskah kembali dirayakan secara berbeda, dan perbedaan itu tetap ada hingga saat ini. https://id.wikipedia.org/wiki/Paskah#Hubungan_dengan_penanggalan_Paskah_Yahudi

Dari uraian serjarah dan etimologi terlihat bahwa paskah yang dahulunya dirayakan oleh bangsa Yahudi sebagai peringatan kebebasan atas pembunuhan anak sulung dalam balah di Mesir yang dilakukan oleh Malaikat dengan mengoles darah anak domba di pintu rumah umat Israel, yang akhirnya setelah kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus upacara tersebut telah dihilangkan, karena darah anak domba adalah lambang dari Yesus Kristus sang juruslamat yang telah menyerahkan nyawanya di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Dan setiap orang berhak menerima memperoleh keselamatan itu hanya dengan percaya kepada Yesus Kristus.
Demikianlah uraian tentang sejarah, arti dan makna dari perayaan paskah. Semoga dapat mnolong umat kristiani lebih memahami akan sejarah, arti dan makna perayaan paskah ini dan dapat menguatkan iman kristiani kita.

By Helfried Lombo

SALAM HELLO FOR SITARO.

Phone : 081385893809



Selasa, 15 Maret 2016

THE NEW ERA - CYBERSPACE (DUNIA MAYA), SIAPA YANG MENGENDALIKANNYA

THE NEW ERA – CYBERSPACE (DUNIA MAYA)
SIAPA YANG MENGENDALIKANNYA

Peradaban dunia kini berubah begitu cepat, dunia seakan menjadi kecil dengan ditemukannya Windows yang akhirnya jaringannya telah menggurita keseluruh dunia, yang akhirnya menyatukan penduduk dunia ke dalam satu dunia baru yang menyebut diri new world, cyberspace atau dunia maya.
Budaya tidak lagi menjadi hak sekelompok orang, suku tertentu, bangsa dan negara. Namun kesemuanya telah ditembusi oleh jaringan telekomunikasi dan komputer yang terpadu dalam suatu cyber net dan menyatu serta bermetamorposa menjadi dunia baru yaitu dunia maya atau cyberspace.
Sebagai akibat, manusia dengan mudah berkomunikasi dengan masyarakat dimanapun di dunia ini melalu sosial media seperti facebook, twitter, blogger, email, youtube. Dengan demikian mempermudah pertukaran infomasi dan penyebaran pandangan, paham yang akhirnya mempercepat pergeseran paradigma berpikir manusia dimanapun berada. Mereka telah membentuk suatu kelompok masyakat baru, dalam suatu tatanan baru yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dengan mudah dan menembusi batas-batas budaya, agama, etnis, bahkan bangsa dan negara. Kelompok ini telah membentuk suatu lingikungan yang solid, kreatif, energik dan selalu mempunyai pergerakan cepat dan massif sehingga menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, mejadi kekuatan penekan (pressure movement) dalam suatu sistem pemerintahan, kekuasaan, bahkan pasar yang sulit dibendung, sehingat berpengaru pada peradaban, tatanan, system organisasi baik pemerintah maupun swasta atau organisasi sosial manapun di dunia ini. Formulasi penyamaan persepsipun bisa terjadi, dan berjalan begitu cepat tanpa dapat diinterfensi oleh pemanggku kekuasaan sekalipun diseanteru dunia.
Sebagai akibat dari semua itu, fanatisme budaya, agama, aliran, paham atau ideologi tak dapat bertahan kaku, karena telah dihancur lulukan oleh paham lain yang masuk dan dianggap masuk akal oleh komunitas dunia maya ini. Pandangan lokal yang kakupun terkikis dengan begitu mudah. Masyarakat dunia maya atau cyberspace mencoba memberntuk jati diri mereka sendiri dalam suatu kelompok dunia maya. Masyarakat yang tidak lagi perduli dengan aturan kaku yang diatur oleh budaya, agama, adat istiadat, dogma, etika lokal, yang kesemuanya itu sudah dianggap usang oleh komunitas yang mengglobal ini.
Kumunitas inilah yang kemudian menyatu menjadi sebuah kekuatan baru yang tidak terdeteksi dan bahkan tak dapat dipahami oleh pakar ekonomi, sosiologi, hukum dan politik seklipun.
Runtuhnya Politik rusia, tak berdayanya kekuatan adidaya amerika baik dalam kekuatan politik, system keamanan, penguasa ekonomi, terporak porandanya perekonomian Indonesia 20 tahun yang lalu,  munculnya pemimpin baru yang phenomenal seperti Jokowi dan AHOK, kesemuanya tidak lepas dari pengaruh komunitas dunia maya ini.. Semua pakar dalam berbagai bidang ilmu tak mampu memprediksi perubahan yang cepat dan massif ini, perubahan yang dikendalikan oleh masyarakat atau komunitas global dalam dunia maya tersebut.
Kekuatan inilah yang telah mampu mengantar anak kolot dari jawa, mampu menempati kursi no 1 di republik ini, menjadi presiden republik Indonesia. Yang walaupun dikeroyok oleh berbagai partai besar namun mampu keluar sebagai pemenang dipemilu presiden yang lalu. Kekuatan inilah yang mengangkat popularitas AHOK, seorang anak kepulauan dari Bangka Belitung, turunan China yang tidak juga kaya, yang mungkin  juga perekonomian keluarganya mengalami kebangkrutan, beragama Kristen, namun bisa menerobos dan bahkan mendobrak segala kekuatan di Jakarta, mulai dari premanisme sampai ke badut dan bandit politik DKI.   Ketika dia dihujat, dikeroyok oleh hampir semua kekuatan partai politik namun dia mampu bertahan. Kenapa bisa demikian,  semua itu hanya karena ada masyarakat yang bersatu dalam cyberspace atau dunia maya yang telah melindungi, melakukan aksi spektakuler yang menghebokan seluruh warga Indonesia bahkan dunia. Kekuatan inilah yang menggoncang istana negara, Mabes Polri, dan Mabes TNI, sehingga harus hati-hati dalam setiap pengambilan keputusan. Kekuatan inilah yang membuat FPI (Forum Pembela Islam) teidak mampu menggoncang AHOK, bahkan seluruh anggota DPRD DKI bertekuk lutut dan kehilangan taringnya. Kekuatan yang menamakan diri sebagai penghuni cyberspace yang ber KTPkan ekektronik berupa password saja.
Sekarang ini bagi siapa yang mampu memobilisasi kekuatan komunitas cyberspace ini,  melalui cybernet, maka dialah yang akan muncul sebagai pemenang dalam segala pertarungan, baik dagang, promosi, pencitraan diri dan pertarungan apapun di dunia ini termasuk pertarungan politik.
Siapakah yang menjadi pengendali pada dunia maya tersebut? adalah mereka yang menamakan diri sebagai anak muda, pencari jati diri, yang bosan dengan segala bentuk tradisi, aturan kaku, budaya yang sudah dianggap kuno atau bahkan usang oleh mereka, paham yang menghalangi kreatifitas dan mobilitas mereka dalam menentukan jati diri mereka.
Mereka yang mampu membaca gejala zaman itulah yang akan mampu dengan cepat melakukan penyesuaian diri dan ikut bergerak dalam arus perubahan yang bisa melulu lantakan kekuatan ekonomi, pasar dan politik di hampiri seluruh belahan dunia ini.
Kaum mudalah yang akan menentukan arah dunia kedepan dengan memanfaatkan teknologi smart phone, internet, note book, pat dll sebagai sarana cybernet yang menghubungkan dunia mereka yaitu dunia maya atau cyberspace.
Kepada generasi muda, saya ucapkan Selamat Berkreasi dan Mencari jati diri kalian sebebas bebasnya. New era is yours.
                                   SALAM HELLO – FOR SITARO 

BY HELFRIED LOMBO
email: lombohelfried@gmail.com
Phone : 081385893809

Senin, 07 Maret 2016

BE A PROACTIVE PERSON INSTEAD OF REACTIVE PERSON

BE A PROACTIVE PERSON INSTEAD OF REACTIVE PERSON
JADILAH PRIBADI YANG PROAKTIF BUKAN PRIBADI YANG REAKTIF.

PROACTIVE tidaklah sama dengan REACTIVE.
proaktif adalah suatu sikap yang menunjukan cara pikIr seseorang yang lebih analitis, lebih cepat mengambil inistiatif, lebIh responsif atau selalu mengambil inisiatif dalam melalukan perubahan atau perbaikan situasi, sistim, keadaat ataupun nasib.
Reaktif, adalah cara merespon yang otomatis lebih dipengaruhi oleh insting, kebiasaan dan tanpa melakukan suatu analisa atau berpikir terlebih dahulu..
Seseorang yang cepat marah tanpa alasan, mUdah tersinggung, sentitive terhadap tindakan orang lain, ini adalah ciri2 orang reaktif.
Seseorang yang lebih tenang, pendengar yang baik, berpkir dan mengola suatu situasi sebelum bertindak, suka mencari cara yang lebih baik, memperhatikan situasi, keadaan, lingkungan dan berusaha memahami dan beradaptasi serta mencari langkah perbaikan, memahami secara komprehensive sebelum bertindak, itulah cara orang proactive bertindak.
Dalam perilaku organisasi dan industri / psikologi organisasi, proaktif atau perilaku proaktif oleh individu mengacu pada suatu tindakan yang lebih antisipatif, berorientasi pada perubahan dan perilaku diri dimulai dari situasi, khususnya di tempat kerja. Perilaku proaktif bertindak sebelum suatu kejadian terjadi, atau lebih siap menghadapi masa depan, bukan hanya bereaksi. Ini berarti mengambil kendali dan membuat sesuatu terjadi bukan hanya menyesuaikan diri dengan situasi atau menunggu sesuatu terjadi. Karyawan proaktif umumnya tidak perlu diminta untuk bertindak, juga tidak memerlukan petunjuk rinci, mereka akan mencari upaya untuk memahami serta melakukan langkah yang baik untuk menyelesaikan suatu masalah. Karyawan proaktif selalu berpikir lebih maju selangkah dari karyawan yang lain.
Perilaku proaktif dapat dibandingkan dengan perilaku lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti kemampuan, yaitu langkah perbaikan diprediksi dalam setiap melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan. Karyawan proaktif lebih sukses mengatasi dan melakukan suatu perubahan untuk perbaikan. Proaktif tidak terbatas pada perilaku. Karyawan dapat proaktif dalam peran yang ditentukan. Mereka misalnya dapat melakukan cara yang lebih efisien dan lebih efektif. 
Berpkir proaktif perlu dilakukan agar kita bisa lebih baik, lebih maju, lebih antisipatif. Selalu tampil lebih cepat, cermat dan tepat Itulah kelebihan pribadi yang proaktif.
Jadilah pribadi yang proaktif bukan reaktif maka anda akan hadir sebagai pribadi yang lebih positif dalam menanggapi situasi, keadaan, masalah dalan selalu hadir memberikan sulusi bukan menambah memperkeru situasi. Berpikir lebih kritis, dinamis dan konstruktif. 
Pribadi proaktif selalu maju selangkah lebih maju dalam segalah hal.
 
BE A PROACTIVE PERSON NOT A REACTIVE PERSON, THEN YOU WILL BE SUCCESS IN YOUR LIFE.

Oleh Helfried Lombo

Kamis, 03 Maret 2016

JADILAH AGEN PERUBAHAN DALAM DIRIMU DAN LINGKUNGNMU



JADILAH AGEN PERUBAHAN DALAM DRIMU SENDIRI DAN LINGKUGANMU

Waktu bekerja di Total Indonesie di Balikpapan thn 1983 sampai 1989, Tiba2 terlintas dalam pikiranku ingin menduduki jabatan yang lebih tinggi. Tapi melihat kondisi perusahaan yang begitu mapan, dan organisasinya begitu rapih dan kuat, kapan saya boleh mendapat kesempatan meraih jabatan yang lebih tinggi. Saya berpikir waduh kalau begini terus, mungkin saya akan selalu jadi ikan kecil di kolam yang besar. Saya berpikir lebih baik saya jadi ikan besar di kolam kecil. Mulailah bergejolak dalam hati antara mau bertahan tinggal di Total Indonesie dengan posisi biasa2 saja tapi kerja aman sampai pensiun, atau berhenti saja cari perusahaan yang lebih kecil dengan harapan boleh mendapat posisi yang lebih baik. Dari kemelut pikiran itulah akhirnya saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan berhenti dari Total Indonesie dan berangkat ke Amerika dengan harapan bisa memperindah Curiculum Vitae (Daftar Riwayat Hidup) baik melalui pendidikan maupun pengalaman kerja ketika kembali ke Indonesia. Itulah pemikiran saya waktu itu. Dan benar sekembalinya di Indonesia, saya langsung mendapatkan posisi Manajer di Perusahaan Pengalengan Ikan di Bitung. Dari penglaman itu saya dapat memahami bahwa perlu suatu keberanian dalam mengambil keputusan untuk keluar dari Zona Kenyamanan (Comfort Zone). Banyak orang sulit melakukan perubahan dalam hidupnya hanya karena terjebak dalam Zona Kenyamanan (Comfort Zone), mereka terbuai dengan kesenangan hidup semu, mereka terlena dengan kenikmatan kehidupan yang ada atau mereka sudah merasa nyaman, aman dalam lingkungan yang demikian. Mereka tidak berani menabrak garis pembatas Zona kenyamanan dalam hidupnya. Akhirnya mereka terperangkap dalam kehidupan tanpa suatu perubahan. Engkung tau magurang Seng Mengkete Kere (Kata orang-orang tua, so babagitijo). Mereka hidup pasrah dan harus bertahan dengan lingkungan yang sama, akhirnya hidup dalam cengkeraman kenyamanan semu. dengan tidak ada perubahan dalam hidupnya. Hidup harus ada keberanian dalam mengambil keputusan dan tindakan, maka kita dapat menerobos batas Zona Kenyamanan dan tidak terjebak dalam lingkungan yang tidak berubah. Jadilah Agen Perubahan dan mulailah dari dirimu sendiri. Semoga bisa menginspirasikan bagi anak-anak mudah.


OLEH

HELFRIED LOMBO

email : lombohelfried@gmail.com
phone : 081385893809

Kisah Nyata Sangat Mengharukan

Kisah Nyata Sangat Mengharukan Pramugari Cantik dan Kakek Tua
Disebuah maskapai penerbangan yaitu di China Airline ada seorang wanita yang bekerja menjadi salah satu pramugari. Ketika pada bulan juni yang lalu tepatnya pada tanggal 17 juni, ia menjumpai sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan bisa ia lupakan selamanya. Ketika itu pramugari cantik tersebut meilihat seorang kakek yang merangkul karung tua, ia meyakini bahwa kakek tersebut berasal dari desa karena terlihat jelas dari gaya kakek tersebut. Ketika melihat kakek tersebut kesan pertama yang ada dipikirannya yaitu, zaman modern seperti ini sungguh sangat sudah maju, seseorang dari desa pun kini sudah bisa membeli tiket pesawat yang tentunya dengan harga tidak murah.
Nah, saat pesawat mulai terbang, beberapa pramugari yang ada di pesawat mulai menyajikan minuman. Pramugari cantik tersebut melewati baris 20, ia kemudian melihat kembali kakek tua tersebut. Ia melihat kakek tua duduk dengan tegak dan kaku seperti patung ditempat duduknya dengan terus memeluk karung yang di bawanya. Ia menanyakan kepada kakek tua “mau minum apa?”, kemudian dengan terkejut kakek tua tersebut melambaikan tangannya tanda menolak. Lalu ia pun menawarkan untuk membantu menyimpankan karung tua yang di bawa oleh kakek, namun kakek tersebut menolaknya. Setelah itu ia pun membiarkan si kakek duduk dengan tenang.
Menjelang pembagian makanan, ia masih melihat kakek tua duduk dengan tegak dan kaku.Ia menawarkan makanan kepada kakek tersebut namun tetap saja ditolaknya. Melihat keadaan seperti itu kemudian ia melaporkannya kepada kepala pramugari. Dengan akrab kemudian kepala pramugari bertanya kepada kakek “apakah anda sakit?”, dengan suara rendah kakek tua menjawab bahwa dirinya ingin ke toilet, tetapi ia takut bahwa dipesawat tidak diperbolehkan untuk bergerak bebas karena ia takut akan merusak barang yang ada di dalam pesawat ini. Pramugari Kepala kemudian menjelaskan kepada kakek tersebut bahwa dirinya boleh bergerak sesuka hatinya, setelah itu menyuruh seorang pramugara untuk mengantarnya ke toilet.
Saat para pramugari menyajikan minuman yang ke dua kalinya, pramugari tersebut melihat kakek tua itu melirik kepada penumpang disebelahnya dan kemudian menelan ludah. Dengan tidak menanyakan apakah si kakek ingin minum atau tidak ia langsung saja menyimpan segelas teh dimejanya. Ternyata tindakannya mengejutkan kakek tua, dengan spontan kakek mengatakan “tidak usah, tidak usah”, lalu pramugari tersebut mengatakan bahwa kakek sudah haus kemudian menyuruhnya untuk segera meminum minuman yang ia sajikan tersebut.
Pada saat itu dengan spontan kakek tua mengeluarkan uang logam dalam kantong bajunya lalu disodorkan kepada pramugari tersebut. Kemudian pramugari itu menjelaskan kepada kakek bahwa minuman yang disajikannya gratis.  Diberitahu seperti itu, kakek tidak mempercayainya, dan kakek bercerita kepada pramugari tersebut bahwa ketika dirinya dalam perjalanan menuju ke bandara, ia merasa kehausan dan meminta minum kepada penjual makanan dipinggir jalan, namun pada saat itu para penjul dipinggir jalan menolaknya dan mengusirnya karena menganggap bahwa dirinya adalah seorang pengemis. Dan pada saat itu juga pramugari itu mengetahui bahwa demi menghemat biaya perjalanan dari desa, kakek tua tersebut rela jalan jauh dari desa dan naik mobil setelah dekat bandara karena pada saat itu uang yang dibawanya sangat sedikit.
Setelah pramugari itu membujuk kakek tua yang terakhir kalinya kemudian baru kakek mempercayainya dan duduk dengan tenang  sambil meminum teh yang telah diberikan oleh pramugari tersebut. Setelah itu pramugari tersebut menawarkan makanan kepada kakek tua namun si kakek menolaknya. Si kakek tua tersebut bercerita kepada pramugari bahwa dirinya memiliki dua orang anak yang sangat baik, putra sulungnya sudah bekerja sedangkan putra bungsunya masih kuliah tingkat 3 di Peking. Anak sulungnya yang bekerja dikota menjemput dirinya bersama istrinya untuk tinggal bersama dikota, namun kakek menolaknya dengan alasan  tidak biasa tinggal dikota dan akhirnya kembali lagi ke desa. Dan kini kakek tua tersebut hendak pergi ke Peking untuk menjenguk anak bungsunya yang kuliah disana. Anak sulung kakek tersebut tidak tega membiarkan ayahnya naik mobil begitu jauh sehingga membelikan tiket pesawat dan menawarkan untuk menemani ayahnya ketika akan pergi ke Peking, namun si kakek menolaknya karena menganggap terlalu boros dan kakek bersih keras untuk pergi sendiri.
Nah, ketika melewati pemerikasaan dibandara kakek tua  disuruh untuk menitipkan barangnya tersebut dibagasi namun kakek tetap bersih keras ingin membawanya sendiri, ia berkata bahwa jika karung yang berisi ubi tersebut disimpan di dalam bagasi maka ubi akan menjadi hancur dan anaknya tidak menyukai ubi yang sudah hancur. Akhirnya pramugari itu membujuknya untuk meletakan karung yang dibawa kakek di atas bagasi tempat duduk, dan akhirnya kakek bersedia dengan hati-hati ia meletakan karung tersebut.
Dalam penerbangan pramugari itu terus menambahkan minum untuk kakek tua tersebut, kakek tua selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi ia tidak mau makan meskipun pramugari itu sudah mengetahui bahwa kakek tua sudah sangat lapar. Saat pesawat akan segera mendarat kemudian dengan suara kecil kakek tua menanyakan "apakah ada kantong kecil?" kakek tua meminta kepada pramugari itu untuk meletakan makanannya dikantong tersebut. Kakek tua mengatakan kepada pramugari bahwa ia belum pernah sama sekali melihat makanan yang enak sepertu itu dan ia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, melihat tindakan si kakek kemudian pramugari tersebut sangat kaget.
Pramugari tersebut kemudian berfikir bahwa makanan biasa-biasa saja yang setiap harinya ia lihat bisa menjadi sangat berharga dimata seorang kakek tua dari desa dan dengan menahan rasa lapar yang mungkin kakek tua rasakan dari tadi ia rela menyisihkan untuk anaknya. Kemudian dengan terharu pramugari tersebut mengumpulkan semua makanan yang masih tersisa yang belum dibagikan kepada para penumpang lalu disimpan dikantong yang akan diberikan kepada kakek tua. Namun diluar dugaan kakek tersebut menolaknya, ia hanya menghendaki bagiannya saja yang belum dimakan dan tidak menghendaki makanan yang bukan miliknya. Perbuatan kakek yang tulus tersebut membuat pramugari itu sangat terharu dan ia menganggap bahwa perbuatan kakek tersebut merupakan pelajaran yang berharga untuknya.
Setelah pramugari itu memberikan sekantong makanan kepada kakek tua tersebut kemudian ia menganggap bahwa semuanya sudah berlalu. Namun siapa menduga ketika semua penumpang turun dari  pesawat, kakek tua tersebut merupakan orang  terakhir yang berada di dalam pesawat. Pramugari itu kemudian membantu si kakek untuk keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar kakek tua tersebut melakukan sesuatu hal yang tidak bisa dilupakan oleh pramugari itu dimana kakek tua tersebut berlutut menyembahnya dan mengucapkan terima kasih yang bertubi-tubi. Kakek mengatakan bahwa para pramugari yang bertugas pada saat itu merupakan orang yang paling baik yang pernah ia jumpai dan kakek mengaku bahwa  dirinya hanya makan sekali dan tidak pernah meminum minuman yang sangat manis serta memakan makanan yang sangat enak. "Pada hari ini kalian semua tidak menganggap hina terhadap saya, kalian melayani saya dengan begitu baik, saya tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan terimakasih kepada kalian, semoga tuhan membalas semua kebaikan kalian” ucap kakek tersebut sambil menyembah dan menangis. Pramugari itu dan teman-temannya dengan terharu memapah kakek tua tersebut dan menyuruh seorang anggota lapangan untuk membantu kakek keluar dari lapangan terbang.

Nah, sahabat janganlah kita  memandang seseorang dari penampilan luarnya, layanilah sebagaimana layaknya orang lain yang berhak mendapatkan pelayanan.. Hargailah semua orang karena kita semua berasal dari satu pencipta.